Meski baru diluncurkan secara resmi di Indonesia akhir Oktober ini, kami pekerja media berkesempatan menjajal kehebatan Samsung Galaxy Tab. Dan boleh sedikit berbangga, karena kami adalah satu dari beberapa orang yang berkesempatan menjajal gadget teranyar ini [di negeri Antah Berantah]. Bwehehehehee...
Ukurannya cuman separo buku tulis, tapi pas di genggaman. Jauh beda sama si apel digigit yang kegedean untuk tangan donat gue. Dasarnya suka main game, gue jajal buat main beberapa game. Favorit gue adalah Duck Hunt yang dulu populer di konsol Nintendo Entertainment System.
Dicoba buat ngetik, ternyata enak banget. Mulus dan smooth. Kameranya memang gak begitu maksimal. Tapi pas gue nyoba motret hasilnya cukup keren kok!. Dan satu lagi, ada kamera sekunder di depan untuk conference call.
OS Android terbaru yang dibenamkan sama sekali gak lemot. Asik buat baca ebook dengan zoom in zoom out pake 2 jari kita. Mau sambil tidur ato sambil jalan-jalan jelas asik banget.
Layarnya sendiri terang banget mengingat Samsung rajanya layar untuk saat ini. Bersih dan dibawah sinar matahari pun masih enak dipake. Dan satu lagi, yang bisa membuat si apel digigit meringis ini sebuah handphone dan bisa masuk ke saku! Are ya gadget freak? U must try this!
Bwah, bongkar bongkar CD dulu lah cari cari playlist yang pas biar semangat sebelum hit the road sore sore. Hey, apa ini? MARCH-Polymath. Saya langsung teringat sore-sore liputan pensi anak SMA di sebuah gor yang cukup besar di Jakarta.
Sebenarnya yang bikin saya ingat adalah karena itu pertama kalinya liputan pensi dengan audience yang super minim. Padahal konsep acaranya lumayan lah. Nah salah satu pengisi acaranya adalah MARCH. Band trashmetal yang satu ini ternyata berhasil memikat hati saya/
Kenapa? Saya tidak begitu sering mendengarkan band band metal Indonesia yang baru. Karena banyak yang tipikalnya sejenis. Kecuali kalau saya pernah nonton livenya dan ternyata asyik. Seperti juga MARCH.
Sampul albumnya saya suka. Tidak memakai huruf huruf yang ‘berakar’. Tapi tetap menyatakan kalau yang mereka mainkan adalah musik cadas. Nah, beranjak ke track 1 ‘Alpha’ nampaknya MARCH tidak mau menahan tensi pendengar. Disambung Akhir Ambisi yang bernuansa live [padahal rekaman di studio dengan kualitas recording nomer wahid].
Wajar, entah kenapa saya mengira financial band ini lancar, sehingga urusan sound dan lain sebagainya jelas bisa mendapat kualitas yang mumpuni. Track ke-3 “Teori Konspirasi” adalah track favorit saya. Video klipnya sudah banyak beredar di youtube.
Satu lagi poin plusnya adlaah banyak lagu berbahasa Indonesia seperti Fase Emosi Raga, Pemberontakan Metafisis, Konfrontasi, Batas Nalar, dan Merasuki Akal yang lirik liriknya tidak kacangan. Setidaknya mereka sudah berani memakai bahasa sendiri.
Youp, semangat saya sore ini terpompa kembali. Mari kita Hit The Road dengan kecepatan maksimum!
Saya suka nonton beberapa olahraga extreme. Dibold ya nonton [hehe]. Karena untuk main main lagi sekarang kayaknya agak gimana gitu ya [bwahahaha]. Salah satu yang paling saya suka adalah BMX dan Skateboard. But now, I want to share a lil bit about Skateboarding.
Ehm, ya waktu Reno Pratama [professional youth skater] Indonesia bilang Skateboarding bukan sekedar olahraga tapi lifestyle, yes saya sangat setuju sekali. Elemennya memang bukan cuman olahraga. Ada musik [skatepunk, hardcore, or melodicpunk], fashion [skater-skater punya style sendiri dan semuanya dimata saya stylish : Trucker cap, t shirt, jeans dan sepatunya sudah jelas sepatu skate (one of my favourite brands VANS) Tattoo, Solidarity [patungan buat bikin ramps, bikin kompetisi patungan ngebeer eh…hehe] dan pastinya fisik dan mental juga harus tangguh untuk naklukin papan. Yeap, now talking about Skateboarding in Game. Tentu favorit saya adalah Tony Hawk Series [meskipun ada seri yang lain]. Bukan apa-apa, seri Tony Hawk dari yang paling lawas sekalipun masih asik buat dimainin kok. Tapi saya lebih prefer yang PC series ketimbang yang console. Gambarnya jauh lebih baik dan asik aja bikin trik pake keyboard.
Dan asiknya, game besutan Activision ini gak makan resource. Believe me, I try TonyHawk ProSkater 2 dan 3 di PC Pentium II dengan VGA 8 MB dan RAM 64 MB doang. Oshh, tapi tetap asik yang jelas. Tony Hawk Underground jelas mantap, set tempat di jalanan [as the title of course] jelas bikin saya suka banget. Skatin over the stairs, sidewalk, hydrant and train or bus [woohooo] so awesome.
Terakhir saya main Tony Hawk American Wasteland. Tetap asik, dengan music music up beat yang membuat serasa main di papan beneran dan tentunya suasananya masih di jalanan. Come on, let’s skatin!
Jreng jreng jreng, siang amat baru posting [oh so sorry]. Yeap, finally beberapa hari yang lalu saya bisa menaklukan game yang selama ini membuat saya frustasi. Huhuy, Guitar Hero. Finally I can hit da strings [parah banget ya]. Setelah mengenal game ini sejak sekitar tahun 2004.
Awalnya saya enggak minat untuk melihat game dengan instrument gitar [masih mending DJ Hero he he]. But, akhirnya saya iseng menginstal Guitar Hero III Legends of Rock. Alasannya simple, banyak lagu-lagu dari band band yang saya suka kayak Social Distortion, Rage Againts the Machine, Beastie Boys dan Slipknot. Padahal untuk maen pas nginstal saya masih enggak yakin. Woohoo, pertama mainin game ini penuh perjuangan. 1 chord pun gak ada yang pas. DAMN, how comes? Diuprak sana, uprek sini default controlnya kurang nyaman buat jari jari kiri saya [alasan doang padahal].
Finally, beberapa hari yang lalu nyobain main lagi pake gitar controllernya [punya PS2 diconvert] and wow, so nice to play brad!. I can play Bulls on Parade RATM almost perfectly [rasanya kayak bisa main gitar beneran]. Duluuu banget sebenernya saya sempat kursus gitar klasik. Tapi entah karena apa yang keliru dengan tangan saya jadinya hampir setaun kursus pun masih belom fasih 1 cord pun. Gitarnya sekarang masih ada, entah mungkin mau dilego entah mau dipajang buat kenang kenangan haha.
But at least, I can be a guitar hero. Although it just in the game! Are ya ready to Rock!.
Yea, morning turnin’ the set of active speakers and ‘Video Killed The Radio Star’ make me feel so want to mosh [haha]. Yes, the old song which was created by a british synthpop/newwave The Bugles in 1979 but I’m listening to the newer version which was rearranged by Me First and The Gimme Gimmes.
Lagunya menggelitik banget, kritik dimana akan ada suatu waktu video or television or video streaming will kill the radio star. Dan benar saja, saat ini popularitas gelombang suara dalam speaker stereo nyaris tenggelam oleh video.
Wajar memang, ini bukan sekedar perkembangan teknologi yang memudahkan orang mengupload video di internet. Tapi memang bisa jadi orang kebanyakan lebih menikmati sesuatu yang visual.
Oh yes, tadi pagi pagi nonton The Boat That Rocked. Uhm, again beberapa hari ini saya kebagian nonton film yang bikin saya melek. Yes ini memang bukan film baru, tapi bagi saya nonton bukan dari film ini baru atau lamanya [tapi katanya esensinya halah halahh]. Filmnya bersetting di tahun 1966, pas jaman musik POP lagi benar benar naik daun. Jelas waktu itu TV belum membombardir dunia seperti sekarang, apalagi koneksi internet [yang mungkin pada zaman itu masih jadi ide di kepala].
Oke back to the film, ditengah terjangan badai pop, ada sebuah radio bernama “Radio Rock”, sebuah radio yang menampilkan set rock selama 24 jam non stop dari sebuah perahu di tengah tengah laut. So pasti penyiarnya pun adalah mereka yang so rock and roll [meaning life is drug, sex and rock and roll].
Tapi bukan itu yang ingin diekspos Richard Curtis di sini. Sang creator yang terkenal lebih dulu lewat Four Weddings, Notting Hill dan Love Actually ini mencoba menyajikan bagaimana sebenarnya radio tidak akan terbunuh oleh apapun.
Sebagaimana rock yang identik dengan kesan rebel, Radio Rock pun begitu. Pemerintah tidak suka dan ingin membubarkan radio ini karena dianggap melanggar [or it just a symbolization of rebel?]. Namun penggemar mereka ternyata jauh lebih buanyak daripada yang menganggap siaran radio ini bosok [in Javanese language].
Gaya siaran yang slengean dan ugal ugalan begitu pas dimainkan oleh Phillip Seymour Hoffman, Bill Nighy, Rhys Ifans, Mick Frost dan Keyneth Branagh. Set musiknya jelas asik [walaupun agak kurang rock dalam versi saya hahai].
Kekonyolan, kekecewaan dan hitam putihnya rock and roll diceritakan secara menyeluruh di sini. Tapi yang menarik, tidak membuat filmnya berat. Simple but make us enjoy to watch sambil nyeruput kopi pagi pagi buta sebelum berangkat aktivitas di luaran [lho kok malah curcol].
Tapi satu yang saya petik adalah a radio will be lighted by the fans. Radio yang bagus pasti punya fans fanatik. Bukan sekedar pendengar. Saat si radio bikin acara off air misalnya, fansnya akan mengikuti kemanapun. Serupa dengan di film, saat kapal rusak dan perlahan lahan tenggelam para DJ masih menyuarakan spirit of rock and roll.
Dan disaat saat kritis ratusan kapal milik fans setia Rock Radio menyelamatkan para penyiar kebanggaan mereka. Yeah, The Bugles boleh saja bernyanyi lantang Video Killed The Radio Star. Tapi nyatanya [dan ehm ya menurut saya] yang ada adalah Radio Killed The Video Star [apa gara-gara saya yang ogah kalo suruh nonton TV lokal, who care?].
Nonton lagi ah lagu ini dalam versi lainnya ahahaahaaai
Yeah, it’s a film about selling banana. Not banana as a fruit but a banana as a part of a men. Pas saya cerita ke temen saya soal film ini, dia langsung mengernyit “selling banana? gigolo maksud lo?,” “No bro, bukan sama sekali!,” dan teman saya masih melongo.
Ehm, kalau berharap menemukan slapstick comedy di film ini lebih baik jangan nonton A Bit of Tom Jones. Tapi kalau pengen mencari ide cerita yang tidak biasa dalam sebuah komedi, buru buru cari deh film ini. Selling piece of banana? Bisnis yang sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Perjalanan penjualan pisang batangan ini jelas tidak mudah. Tapi penuh dengan kekonyolan dan komedinya tidak terkesan maksa. Setting tempat memang gak terlalu banyak, tapi ini wajar mengingat film ini adalah salah satu film low budget.
It’s not a porn comedy. But extraordinary idea of low budget comedy film. Starring: Jonny Owen, Roger Evans, Eve Myles, Matt Berry, John Henshaw, Margaret John, Geno Washington and Denise Welch.
Udah tau dong serial Prison Break yang DVD setnya kini merajalela dan bahkan sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia!. Yeap, Prison Break juga hadir dalam format game multi platform [PS3, XBOX 360 dan PC]. Tapi yang akan dibahas di sini adalah review mengenai game ini di platform PC.
Berbeda dengan versi film, karakter utama dalam game ini bukanlah Michael Scofield, melainkan agen dari Company (Organisasi raksasa yg jadi musuh utamanya Scofield cs) bernama Tom Paxton. Ia dikirim ke Fox River untuk menelusuri kenapa Scofield yang tadinya hidupnya baik-baik aja mendadak harus berurusan dengan polisi dan terpaksa dikurung di balik jeruji besi.
Tom disini menjadi kunci penting dalam usaha Scofield cs untuk kabur dari penjara. Tokoh-tokoh lain seperti T Bag dan banyak lainnya juga dihadirkan di sini. Game ini adalah gabungan stealth dan action. Bisa jadi mirip dengan seri game Splinter Cell. Hanya saja, disini tokoh utama tidak memegang senjata.
Untuk menambah kekuatannya, Tom bisa menggunakan property olahraga seperti barbell dan sandsack. Bagaimana dengan grafisnya? Game besutan DeepSilver ini bisa dibilang memiliki grafis yang cukup lumayan. Tidak terlalu bagus, tapi tidak membuat processor dan VGA kelelahan saat harus merender.
Urusan soundeffect dan music, boleh diacungi dua jempol. Nampaknya seluruh pengisi suara dalam game ini adalah pengisi suara asli dalam filmnya. Jadi membuat kita serasa benar-benar ada di dalam Fox River. Bahkan, scoringnya pun dibuat asli dengan film. Ini jelas poin plus dari game yang sempat diragukan gamer lantaran pengembangnya masih jarang terdengar di kuping gamer.
Di beberapa level, gamer yang tidak sabaran pasti akan jengkel. Karena memainkan game stealth yang jika ketahuan harus mengulang lagi tentu akan lekas membosankan. Tapi justru disitu lah serunya, sebagaimana dalam film, disini pun begitu. Yang sudah pernah nonton serialnya dan tentunya maniak film ini jelas wajib memainkan game ini. Mendebarkan? Pasti!
Setelah cukup lama tidak ada game fighting yang dibuat untuk platform PC, CAPCOM kembali mengusung game fighting klasik mereka kedalam format multiplatform. Ya, Street Fighter kembali seolah ingin menampik komentar tidak adanya game fighting di PC yang mumpuni lagi.
Cerita dari game ini memang tidak banyak berubah dari versi originalnya. Karakter-karakter lama seperti Ken, Ryu, Chun Li,E Honda, Dalshim, Guille dan M Bison tetap dimunculkan. Namun juga banyak karakter-karakter baru yang diselipkan.
Beberapa karakter sengaja masih di set dalam posisi lock. Untuk mengunlocknya, ada beberapa level game yang harus diselesaikan. Nuansa klasik sangat terasa ketika game ini dimulai. Bak tampilan arcade tahun '90an. Tapi begitu masuk ke menu utama game, nuansa kekinian mulai terasa.
Pemilihan karakter masih gaya klasik lama, namun kali ini dibuat semi 3D. Masuk ke game First Movie Video (FMV) dari karakter yang kita pilih akan muncul. Menceritakan sedikit flashbackmengenai legenda pertarungan klasik dunia ini.
Saya sempat terpukau dengan grafis yang dibawa di dalam game. Gabungan environtment 3D dirender cukup halus berpadu dengan karakter 3D yang membawa nuansa kartun di dalamnya. Bisa jadi ini juga lantaran terakhir saya bermaun game ini di konsol NES yang artinya gambarnya amat sangat apa adanya [8 bit bro]. Mengingat RIG tidak baru-baru banget ,jadinya hanya diset ke mode HIGH dengan AA 8x. Tapi grafisnya sudah oke di mata dan yang jelas smooth tanpa lag sedikitipun. Kontrol dari game cukup mudah. Jelas untuk bisa memainkannya dengan nyaman anda membutuhkan stik.
Saran untuk stik bisa menggunakan stik XBOX 360 for PC atau stik PC lainnya yang cukup bermerk. Saya sendiri belum menggunakan stik XBOX 360, maklum harganya lumayan juga sih. Tapi setidaknya dari stik biasa yang beredar di pasaran pilihlah stik yang paling tidak agak awet. Kalau sedikit sabar pasti mudah menemukan stik semacam ini.
Penggunaan stik yang nyaman di sini jelas tidak hanya untuk menjaga keyboard anda jebol lantaran keasyikan mengoprek jurus, tapi juga mempermudah mengeluarkan trik-trik rahasia atau combo. Saking spesialnya kemarin saya melihat ada seller yang menjual stik khusus SF IV. Lengkap dengan gambar karakternya. Kalau itu sih istimewa, lantaran control L dan R dipindah kedepan, combo pun keluar dengan mudahanya. Meski begitu agar bisa menjalankan game ini dengan cukup nyaman rasanya tidak perlu rig yang berkemampuan super. Test bed penulis dengan Athlon X2 5000 (2,8 Ghz), Ram 2 GB, dan ATI Radeon 4670 1 GB berhasil mencapai resolusi 30 Fps dengan setingan high dan anti aliasing 8x. Jadi, untuk anda yang menggemari game klasik Street Fighter, jelas game ini wajib mengisi PC anda. Selamat Bertarung!
Me..ordinary man who love music, movie, gaming, gadget, matic modification. I am try to be a good writer. Can't stop say thanks to Boss of The Universe for sending Irene Bernadette to my life