Monday, December 6, 2010

Bila Hidup Seindah Kartun


Pagi-pagi, saya bangun dan teringat kalo hari ini, ehm UNICEF mencanangkan tanggal 6 Desember sebagai hari “Fight Against Child Abuse”. Semua orang yang aktif di situs jejaring sosial diajak mengganti foto profilnya dengan karakter kartun favoritnya di masa kecil dulu.

Ya, kartun memang selalu bikin kita ketawa. Selalu inget masa kecil jadinya. Bagaimana masa kecil kamu semua? The reader of this blog, or anyone…tsssah. Apakah masa kecil kamu dipenuhi dengan bermain-main dengan orang tuamu? Atau malah sebaliknya, penuh penyiksaan dan kekerasan sehingga saat bersama orang tua adalah saat-saat yang ingin segera diakhiri?

Saya memang belum menjadi orang tua, tapi selalu miris rasanya melihat orang tua yang enggan mengurusi dunia anaknya. Seolah waktu sudah tak cukup lagi untuk sekedar bermain bersama anak-anak.

Well, actually kita semua hidup berawal dari anak-anak. Enggak mungkin kan kita hidup langsung jadi remaja atau orang tua? Ibarat pohon, kalau sudah dibuat cacat dari waktu masih tunas, saat tumbuh dia enggak bakalan sempurna. Rasanya begitu pula dengan manusia. Kalau anak-anak dididik dengan dipukulin pakai sapu wajar saja kalau sampai jadi mahasiswa pun menyelesaikan masalah dengan gebuk sana-sini. Kenapa? Simpel aja sih, anak-anak cenderung lebih mudah mengingat ketimbang orang tua.

Ehm, ngomong-ngomong karakter pilihan saya Astroboy. Kartun legendaries dari Negeri Sakura itu sampai sekarang saya suka. Bahkan masih ada kaosnya dan pernak-perniknya. Kenapa saya suka? Well jawabannya simpel, dia lucu dan robotic. Kombinasi 2 hal yang sangat keren menurut saya.

So, buat para orangtua rasanya gak perlu lagi merasa kehabisan waktu untuk setiap hari main sama anak-anaknya. Although cuman setengah jam main game, atau cerita-cerita pake boneka dan action figurenya. Come on, save our children!

Saturday, November 6, 2010

Custom is The Best Choice (For Me)


Saya sangat menyukai apapun yang bisa dikustomisasi. Dari gadget. busana, kendaraan dan apapun. Kenapa? Karena disitu kreativitas kita diuji. Ambil satu contoh, PC Branded. Oke, pasti produknya sudah dirakit secara pabrikan dan tidak sedikit yang keren-keren. Tapi kalau kamu dan temanmu membeli PC yang sama, keduanya akan menjadi kembar dan akhirnya fitur-fitur keren yang dibenamkan ke dalamnya menjadi biasa-biasa saja.

Contoh lainnya, diantara 4 generasi OS smartphone yang ada saat ini (Apple OS, Blackberry, Android dan ehm Symbian) yang paling bisa dikustomisasi adalah Android. Mungkin Blackberry dan iPhone boleh terlihat lebih glamor dan berkelas. Atau Symbian yang ehm, digunakan ribuan orang di sini. Tapi fitur kustomisasi terbanyak akan memiliki nilai lebih tersendiri.

That’s why I always love PC modding. Saya sangat mengapresiasi para modder dengan otak-otak kreatifnya. Mereka berbeda kelas dengan kemampuan teknikal para overclocker. But it’s oke kok. I prefer something custom than somethin so technical.

Jiawww…..

Saturday, October 16, 2010

Some Magic Numbers



Me and her have some magic numbers

11+11=22

8+11=19

22.22

And ehm C2/24

Click..click..click…Fall down…

Wednesday, October 13, 2010

Between Music and Gaming


Saya pecinta musik dan penyuka game. Kedengarannya biasa-biasa saja mungkin. Tapi akhir-akhir ini ada fenomena unik yang saya temui [atau saya sadari] bila ada keterkaitan antara game yang dimainkan seseorang dan musik yang didengarkan.

Dulu, zaman masih jadi mahasiswa ugal-ugalan saya sekelas dengan 3 orang gamer freak. Bagaimana tidak freak karena pada saat masuk kelas kantung mata ketiganya hitam kelam karena baru tidur 1 atau 2 jam sebelum kuliah dimulai.

Dua teman saya itu memang suka musik cadas. Setiap hari playlist macam Slipknot, Soulfly, Sepultura, Pantera, Dream Theater, hingga yang kekinian macam As I Lay Dying, Lamb of God, Primer 55 dan segudang grup lainnya jadi makanan kami sehari-hari. Tak jarang kita duduk-duduk di depan kampus sambil ngobrol ngelantur dari yang serius sampai yang bacot-bacot enggak jelas sambil ditemani botol-botol [minuman isotonik, softdrink, susu atau suplemen] dan berbungkus-bungkus kacang.
Karena saya tidak smoking maka saya hanya kebagian asap pembuangan 2 teman saya tadi.

Nah teman saya yang satunya awalnya malu-malu mendengarkan musik cadas. Tapi gara-gara semakin banyak game yang pake musik cadas di dalamnya kayak NFS series, GTA series dan banyak lagi dia keracunan juga. Tadinya dia seorang penggemar J-Music, ujung-ujungnya musik tempo tinggi macam Rancid pun dia telan juga [good job brother E].

Saya baru nyadar kalau teman-teman di kantor saya sekarang banyak yang menyukai musik cadas. Mau yang lokal macam Seringai, Burgerkill, Jeruji sampai yang luar macam Killswitch dan tentunya Slipknot. Selain itu, rata-rata teman sekantor yang gamer addict juga suka musik-musik elektronik entah itu elektropop, atau chiptunes.

Yang sedikit aneh lagi, teman-teman saya yang cenderung mendengarkan musik non mainstream lebih memilih membangun rig berplatform AMD. Sama halnya dengan saya. Apakah ini karena Intel dan NVidia adalah produk-produk mainstream sementara AMD dan Radeon adalah versi non mainstream di dunia rig dan gaming? Saya belum menemukan jawaban yang pasti. Tapi feeling di hati merasa begitu sih [jiahahaa dasar cheap bastard].

Nah, begitu juga dengan sipacar. Dia suka game-game ringan dan lucu. Enggak heran selera musiknya juga yang ringan-ringan. [Belakangan kita suka karaokean bareng]. Sipacar juga gak pernah memikirkan apa yang ada di dalam rignya. Yang penting internet cepat dan kalau dipake kerja enggak lemot. As simple as that. Tapi bukan berarti sipacar buta game juga. Buktinya dia tau Olimpiade Megaxus [so amaze to hear that bonbon].

So, bagaimana dengan kalian? Setuju kalau game mempengaruhi selera musik? Jiahhh,,,bolehlah kita berbacot-bacot ria disini. Come on. Let’s rawkk



and still playing this game