Sunday, October 2, 2011

Solar Lunar Blar!



Ini bukan ulasan 'Men from Venus' and 'Women from Mars'. Kalau itu sih silahkan baca bukunya yang sudah berserakan di toko-toko buku terdekat. Lagian penulis ugal-ugalan seperti saya terlalu nista untuk menulis hal yang 'seserius' itu. Oh yes? *apasih*

Saya percaya akan sebuah koneksi pikiran yang berawal dari harapan atau (mungkin) angan-angan. Istilah kerennya sih katanya 'transfer pikiran' atau apalah yang sama sekali saya kadang sulit mencerna seperti pencernaan saya yang kerap gangguan ketika banyak pikiran.

Tapi tentunya enggak sembarangan sih (lagi-lagi ini hanya opini dangkal saya, maklum bila ada analogi Sempit tapi Dalam ataupun Dangkal tapi luas maka saya akan dengan senang hati memilih Dangkal tapi luas saja). Maksudnya enggak sembarangan tentu jalur pikiran yang bisa terkoneksi itu gak sembarangan bisa langsung terkoneksi antara si A dan si B yang sama-sama enggak kenal.

Untuk bisa melakukan itu, harus ada 'aliran' energi dari hati. Namun lagi-lagi bukan sekedar hubungan yang bisa membuat ini berjalan mulus.Yang mentransfer dan yang ditransfer harus berada dalam satu 'jalur' yang sama. Kutubnya boleh beda, karena jadinya akan tarik menarik.

Semua bisa berawal dari hal-hal sederhana. Mulai dari ketika rasa lapar menghinggapi dan terbayang ingin makan makanan X maka ketika pikiran itu bersatu dengan yang menerima pikiran di jalur yang sama maka akan ada pertemuan di satu titik meski tengah tak berdekatan.

Tentu nantinya berpotensi berlanjut ke proses transfer yang lebih kompleks. Seperti misalnya rasa yang jangan diacuhkan. Kalau hal-hal semacam ini dilawan, bisa jadi akan berantakan. Saya sudah pernah (bahkan belum lama ini) mengalami kondisi demikian.

Kalau ditarik lebih jauh lagi, mungkin ada hubungannya dengan Solar (tentunya bukan bahan bakar) dan Lunar. Dua kekuatan siang dan malam ini juga ada di diri pria dan wanita. Tak percaya, saya coba transfer lagi dan nantikan jawabannya 99.99% akan sama!

Tuesday, September 20, 2011

Hijau yang Berkicau



Entah dari kapan awal mula saya menyukai warna yang satu ini. Bahkan dulu sangat overkill, nyaris semua-muanya selalu memburu yang berwarna hijau. Dari apparel sampai periferal. Just click aja sama warna yang satu ini. Sebelum akhirnya mengingkari jati diri dan menemukan kegilaan yang lebih menjadi dengan warna hitam, merah dan putih!

Setelah cukup lama mematut diri, rasanya apparel hijau sudah tak lagi cocok dengan warna kulit yang semakin ehm gelap bagai malam yang tak kunjung habis ini. Dan lagi, hitam itu match untuk disandingkan dengan warna apapun.

Entah disengaja atau tidak, saya tetap mengumpulkan berbagai pernak-pernik warna hijau. Agak aneh sebenarnya, warna yang kurang cadas begitu kok bisa disuka. Dari mulai gelas, thumbler, shaker sampai cabinet dan (rasanya bukan kebetulan) kamar mandi juga serba hijau hehe.

Memang katanya, hijau membuat pandangan lebih sejuk dan mata kian adem. Saya tidak pernah secara lisan mengamininya. Tapi tanpa disangka, saya yang seharian selalu memandangi layar monitor selalu menyematkan berbagai pernik warna hijau. Meski itu sekedar bar, atau tambilan instant messenger atau wallpaper.

Tak diduga tak dinyana, pasangan saya juga suka yang hijau-hijau. Tentunya tanpa melupakan warna hitam. Ajaib? pastinya! Semakin yakin bila hijau adalah terapi. Serasa semua beban di kepala hilang ketika memandang warna yang satu ini.

Kesamaan ini membuat kami kerap menyengaja mencuri waktu untuk memburu segala sesuatu yang berwarna hijau. Dari pernak-pernik yang sukses menjadi penyambung rindu hingga minuman ringan yang rasanya sedikit melenceng dari warnanya haha! Hijau kini berkicau, dan juga berkilau :)

Ah, kok jadi pengen pisang hijau ya? *sluurrp.

Tuesday, September 13, 2011

Hutang di Lahan Pejuang

Gila, hutang saya semakin menggunung! Bukan, tentunya bukan rupiah ataupun dollar yang belum terbayarkan [dan semoga tidak demikian adanya]. Tapi dilanda banyak hutang tulisan dan bacaan.

Apakah saya terbebani dengan kutang, eh hutang-hutang itu? Saya menggeleng pasti. Tidak ada yang bisa mengerem hasrat menulis saya. Sekalipun tinta habis, kertas tipis apalagi hanya urusan kantong tiris. Selalu harus ada aktifitas menulis, atau mungkin nanti saya bisa kena sipilis [amit-amit].

Ah, saya semakin berhutang semenjak kepingan puzzle kehidupan saya ketemu. Kami memang sangat gila akan halaman, peramu kata, fetish dengan papan ketik untuk menciptakan aneka kolaborasi yang menggelitik dan unik.

140 karakter hanya menjadi jajanan dan tak pernah membuat perut kenyang. Walaupun jajanan sehat, tetap saja butuh nasi ala orang Indosnesos. Demi tuhan, kelaparan di malam hari itu sangat tidak mengenakkan. Ah dasar saya memang tukang lapar saja kalau itu.

Siang tadi benar-benar bolong dan panas. Matahari seolah tidak memiliki saringan payung sedikitpun, cus keringatpun berucuran. Jangan dulu mengeluh, di belahan ibu [kota] ini ternyata belahan jiwa saya semakin menunjukkan keperkasaannya. Hingga jarak tak lagi dirasakan untuk bertemu muka dan menghantarkan kudapan untuk mengisi perut yang sudah berteriak berbagai lagu.

Oh my gosh, ini benar-benar sesuatu yang sesuatu banget. Di kota yang konon begitu kejamnya ini, niat baik kepingan puzzle kehidupan sudah tak lagi mengenal batasan. Tak peduli arah mata angin, arus jalan yang tak menentu ibarat menembus badai tanpa pelampung.

Saya akan merasa tambah berhutang, ketika tak sempat menggores pena di kamar kecil ini. Rangkaian kata bisa menjadi kereta pengobat rasa. Sembari tentunya mencicil sedikit demi sedikit hutang bacaan. Seandainya membaca bisa secepat menulis barangkali saya akan memutar aktivitas untuk sementara, maka tanpa perlu ditanya akan segera menjungkir balikannya.

Wahai kepingan puzzle kehidupan, nantikan aku di halaman, serpihan kertas hingga daun-daun kering berisi tulisan yang [semoga] membuat ketagihan terus menerus.

NB:Maaf kalau krang panjang ya @blessedirene..mata sulit berkompromi :( bahkan sinkronisasi antar huruf dan mousepun tak lagi betul

Sunday, September 11, 2011

Perjalanan Belulang


Suka makan ayam, kambing, bebek atau hewan bertulang keras lainnya? Di dalamnya pasti tersisa belulang. Tulang itu oleh kebanyakan pengkonsumsi daging selalu disisakan di piring dan akhirnya masuk tempat sampah.

Miris. Padahal tanpa tulang belulang, aneka olahan daging mungkin tak akan senikmat yang kita sering rasakan saat ini. Tanpa tulang mungkin kaldu tidak akan membuat lidah menari-nari sampai lupa hari.

Belulang juga jarang diolah. Kerap hanya dibuang dan menjadi makanan binatang. Bahkan pemulungpun bisa jadi enggan memungut belulang karena tidak bisa membuat perut kenyang. Padahal tanpa belulang, bisa jadi olahan daging tidak pernah ada.

Salah satu tulang jatuh keluar dari tumpukan sampah yang akan diantarkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA-red). Berubahkah nasibnya? Dari yang tadinya ada di lautan sampah yang bau, kini ada di jalanan berdebu. Pilihannya adalah tergilas mobil yang melaju kencang, dijadikan mainan tendang-tendangan oleh orang gila dan beberapa manusia iseng. Atau yang terburuk menjadi makanan anjing.

Perjalanan keluar masuk lautan sampah tidak pernah menghantarkan belulang sampai ke TPA dan akhirnya dihancurkan. Ia selalu jatuh di jalanan. Entah plastiknya kepenuhan, atau truknya melebihi daya angkut.

Namun kali ini belulang itu beruntung. Saat terlempar dari kantong plastik pembungkus sampah dan kembali mendarat di jalanan, dengan wujud yang semakin kusam dan penuh debu ia diambil seseorang yang tengah menyusuri jalan.

Dimandikannya belulang itu, warnanya yang tadinya kusam kini berubah jauh lebih bersih. Ditempatkannya di kotak emas beralas busa berwarna merah bak perhiasan mahal. Si belulang itu akhirnya kembali tersenyum. Kini ia tak lagi seonggok tulang yang terserak dan berujung tragis, tak kalah dengan daging yang selalu mendapat senyum yang tersungging dari para omnivora.