Showing posts with label jalanjalan. Show all posts
Showing posts with label jalanjalan. Show all posts

Tuesday, June 28, 2011

Mengintip Thailand dari Balik Lensa Kamera

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi negerinya gajah (Thailand-red). Tentu sebagai seorang pecinta gratisan, saya pergi atas nama pekerjaan dan tentunya request dari sponsor.

Judulnya liputan, tapi tentunya harus dikolaborasikan dengan jalan-jalan. Kalau untuk majalah tempat saya bekerja saya menulis dengan serius, rasanya masih kurang gregetnya untuk tidak menulis versi ugal-ugalannya.

Oke, tanpa perlu banyak ngabisin tinta langsung saya mulai saja. Berangkat hari Minggu yang kepagian dan malem sebelumnya gak bisa tidur. Yes, akibat jadwal tidur yang berantakan. Sekalinya harus dipaksa bangun pagi susah banget buat yang namanya merem!

Gulang-guling di kasur, twit, nytatus, ngegame gw lakuin biar skip and sleep. Tapi tetep sama. Mata lebih memilih buat terjaga. Dan akhirnya jam 5 pagi mandi dengan mata terkantuk-kantuk.

Oke, taksi ditelepon dan dengan pedenya berangkat 1,5 jam lebih dulu dari jadwal yang ditentukan. Oh my gosh, ini hari Minggu. Jalanan yang biasanya kejampun mendadak sepi.

Kepagian ceritanya, nunggu sekitar 1 jam deh.

Udah pada kumpul semua, check in ceritanya. Ehhhh, tau-tau antrian di imigrasi penuhnya ampun-ampunan. Efek liburan sekolah? Katanya Indo lagi krisis, kok yang berangkat ke luar negeri segini banyak. Atau sudah bosan dengan Indonesia?

Masih ada waktu 30 menit sebelum boarding. Ngopi-ngopi jadi pilihan. Gosh, banyak banget. Kembung dah dan alhasil Starbuck yang masih 3/4nya itu harus mendarat di keranjang sampah. Bener-bener deh.

Masuk pesawat, ternyata salah pintu. Kursi di belakang tapi masuk dari depan yang notabene bisnis. Tapi ekonominya internasionalmah udah cukup oke kok. Baru lepas landas, hasrat ingin pipis udah gak ketahan. Bukan kok, bukan takut terbang saya, suer deh.

Ceritanya sarapan di pesawat. Ada air mineral kontet, jus kontet dan makanan tentunya. Entah kebanyakan minum atau gimana, mendadak pengen ngompol lagi deh. Errr..ya dan kamar mandi pesawat ngantri tuh.

Transit di Singapur sekitar jam 11 waktu sono. Bingung mau ngapain..udah deh, jepret-jepret aja. Disambung makan siang dengan rasa yang sedikit aneh ^_^

Terbang lagi dengan pesawat yang lebih kecil. Lagi-lagi langsung kumat pengen pipis. Plus masih makan pula dengan efek makan siang yang belom sepenuhnya hilang.

Mendarat sekitar jam 17.30 dan kali ini tanpa rubah-rubah jam. WIB=Waktu Indonesia Bagian Bangkok *eh. Guide lokal menjemput dan kita diantar ke hotel Mandarin Oriental Dhara Dhevi yang jaraknya sekitar 20 menit dari hotel. Sampe hotel, langsung dapet kalungan bunga (enggak matching banget sama saya deh) plus kunci hotel tentunya.

Masuk kamar, lebih gila lagi rasanya. Guede banget. Sampe-sampe bingung mau ngapain. Hihi..

Okeh, tanpa mandi, langsung jalan-jalan ke Sunday Night Market. Sebenernya sih gak jauh beda sama Pasar Baru atau pasar malemnya Indo. Tapi namanya di luar negeri, ya tetep aja beda rasanya.

Banyak souvenir, makanan dan banyak lagi yang bisa dibeli di sini. Dari yang halal, gak halal sampe aneh bentuknya. Dan ada kripik serangga juga *_* sih, seperti yang biasa banyak diliput di acara-acara jalan-jalan.

Abis ngelewatin 2 perempatan sambil jeprat jepret, akhirnya nemu warung makan yang rame banget didatengin. Entah karena memang enak atau karena tempatnya di ujung pasar yang bikin orang harus balik lagi. Pesan memesan menu...dan satu yang juara adalah Thai Ice Teanya. Rasanya belum ada es teh seenak ini. Gelas pertama habis seketika, gelas kedua ditambahin dan gelas ketiga tandas akibat kepedesan.

Habis makan, saya sempet beli beberapa souvenir. At least cari yang cukup unik deh. Dan ternyata rombongan udah nunggu di ujung jalan. Err, yes...lumayan berkeringat menembus pasar di malam hari ternyata.

Morning call membangunkan saya. Disambung dengan sarapan (telor plus sosis dan buah-buahan yang rasanya juara banget) dan minum jus. Sehat banget ya makannya (padahal yang laen gak doyan deh)

Habis presscon, jalan ke Sankampang, ada pembuatan payung tradisional. Mereka bisa juga sih bikin gambar-gambar di media lain. Kayak hape, topi atau tas.

Makan siang kali ini di restoran pinggir kali. Alias RiverSide. Oho, bener-bener riverside sih. Bedanya kali di Thai gak bau kayak Indo punya. Hehe..Lagi-lagi Thai Ice Teanya memanjakan tenggorokan deh.

Perjalanan lanjut ke Doi Suthep alias candi/kuil yang melewati jalanan berkelok-kelok awalnya gak bikin pusing lantaran semua anggota rombongan ketiduran. Dan nerakanya baru mulai pas pulang lantaran kehujanan disambung minum soda. Alhasil semua mabok cola. *enggak banget deh untuk yang ini.

Habis acara foto-foto di seputar hotel, makan malem kita malam itu adalah Gala Dinner. Makanannya banyak dan melimpah, cuman ya begitu. Lidah kampung saya butuh penyesuaian lagi nampaknya *_*

Trip hari terakhir adalah ke Maetaman Elephant Camp. Oh my gosh, naik gajah. Udah lama banget gak naik binatang yang satu itu. Udah ekstrim disambung dengan naik sapi..Aish...lumayan pumpin adrenalin sih.

Habis makan malem di Restoran Perancis yang saya bener-bener asing sama menunya, kita sempet mampir ke night market lagi. Dan baru kali ini juga tau harga Taxi lebih murah ketimbang Tuk Tuk atau angkot sana. Hwehe. Oh iya, sempet ditawarin pijit plus dengan harga 200 Baht..cuman gak yakin siapa yang mijit dah hehe. Dan yang lebih bikin night shock adalah malem-malem ngelewatin salah satu spot tempat kumpulnya para LadyBoy Thai. Oh my gosh..hehe

Yea, ChiangMai adalah kota di negeri seberang yang gak bakal terlupa. Enggak terlalu panas, gak terlalu dingin. Jalanannya bersih dan buahnya enak-enak. Plus segarnya Thai Ice Tea yang tak terlupakan di lidah..Sluuurp...kapan-kapan saya kembali ke sana yes ^_^

Friday, August 27, 2010

Visiting My Lovely City


Huahuei, finally I can go to my lovely city. Berbulan bulan terjebak rutinitas ibukota akhirnya bisa relax. Yess, ibukota Jawa Barat memang selalu membuat saya relax setelah mengorek rejeki di tanah orang.

Dueng, memang enggak begitu lama. Tapi paling enggak bisa membuat pikiran adem, hati gak panas dan suka.

Banyak hal unik disini, banyak hal menyenangkan. Banyak orang orang yang ngangenin dan buanyak lagi yang menyenangkan.

Makanan manknyus, harga yang masih murah [sebagian]. Gadget gadget yang kadang limited dan suasana yang menyenangkan membetahkan banget lahhh…ahhh mari menikmati sebelum waktunya berakhir.

Ayooo liburan dan senang senang :)

Tuesday, August 10, 2010

Not Gaming in The Cafe but Cafe in The Gaming



Ketika video game mulai memasyarakat, sejumlah pihak berlomba-lomba membuat rental video game. Dari mulai perumahan, lingkungan kampus hingga pusat-pusat perbelanjaan.

Tapi jika ingin tempat nge-game yang enggak seperti rental game kebanyakan, Gen-X di Jalan Naripan No 121 memiliki konsep itu. Sejak berdiri Juni 2008 lalu, Gen-X menggabungkan rental video game dan cafe.

Begitu masuk, nuansa kenyamanan langsung terasa. Ruangan ber AC dengan sofa-sofa hitam berpadu dengan dekorasi ruangan yang didominasi warna merah dan hitam.
Deretan LCD dan televisi flat ukuran besar beserta console gamenya berjajar rapi.

Wahyu Prasetya, salah satu pegawai Gen-X menuturkan kepada detikbandung, ide membuat Gen-X ini berawal dari ide pemiliknya Doni Sopandi yang ingin membuat
tempat nge-game yang mengedepankan kenyamanan.

"Yang punya ingin memberikan kenyamanan berlimpah pada yang datang di saat nge-game, jadilah dibuat seperti ini. Mirip-mirip cafe tapi rental video game," tutur Wahyu.

Bedanya lagi, Gen-X menyediakan berbagai console gaming yang saat ini sedang naik daun seperti PS3, XBOX 360 dan Nintendo Wii.

"Justru itu yang menjadi pembedanya, kalau di rental-rental lain masih jarang yang menyewakan XBOX dan Wii. Kebanyakan kan PS 2 dan PS 3 saja," tutur Wahyu.

Koleksi game Gen-X bisa dibilang cukup lengkap. "Ada 112 judul game X-Box, 30 judul game Nintendo Wii dan 6 judul game PS 3," tambah Wahyu.

Dari berbagai konsol yang tersedia, konsol PS 3 adalah yang paling banyak diminati. Sedangkan untuk gamenya, sepakbola masih menjadi unggulan "PS 3 paling sering penuh, beda dengan X Box atau Wii. Hanya kadang-kadang saja ada yang main. Kalau untuk gamenya rata-rata pada main sepakbola entah itu PES 2009 atau Winning Eleven," seloroh Wahyu.

Khusus untuk PS 3, ada room yang bisa digunakan untuk main sampai berenam. "Sebenarnya bukan room khusus, hanya saja agak lebih private. Biasanya sih dipakai untuk yang main beramai-ramai," tutur Wahyu.

Harga sewa untuk tiap konsol bervariasi, untuk PS 3 dipatok harga Rp 8 ribu per jam, XBOX Rp 5 ribu per jam dan Wii Rp 6 ribu per jam. Sedangkan jika ingin main
lebih dari berdua dikenai charge mulai Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.

Gen-X buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Sedangkan di hari minggu buka hingga pukul 24.00 WIB.

Monday, August 2, 2010

Jangan Pernah Ngomong Anjing di Taman Ini


Tempat main bagi anak-anak saat ini semakin terpapas habis oleh bangunan-bangunan pencakar langit dan berbau komersil. Padahal dunia anak adalah dunia bermain.

Berangkat dari kondisi itu, Phaerlymaviec Musadi (33) mendirikan The Neverlands Playground di tahun 2006. Berlokasi di Jl Baranangsiang yang juga berbarengan dengan kantor produksi clothing United Moron, Distribute dan Parental Advisory Baby Clothing.

"Neverland Playground adalah representasi dari program Never Grow Up (NGU) yang mengajak orang tua untuk lebih meluangkan waktu bermain bersama anak-anaknya," tutur Pei dalam sebuah sesi perbincangan santai.

Nama Neverland sendiri diambil Pei dari negeri milik di mana tokoh kartun Peterpan hidup. "Di sana anak-anak bisa berbuat apa yang mereka mau. Setidaknya saya mencoba menjumput sebagian kecilnya di Neverland Playground ini," ujar Pei.

Di taman bermain ini, ada ramp skateboarding, bangku taman, trampolin hingga sansack tinju. Enaknya, sama sekali tak ada pungutan biaya sepeser pun untuk bermain di sini.

Pei menambahkan Neverlands Playground Project adalah suatu tempat bermain yang memiliki visi supervised playground di daerah sub-urban dan berpenduduk padat. Ditujukan untuk anak dari usia balita hingga 15 tahun.

"Ini adalah tempat bermain yang bisa menampung emosi anak lewat permainan-permainan konstruktif dan juga ekstrim. Tapi semuanya dilakukan dengan supervisi (pengawasan dan pengarahan) yang serius. Jadi bukan membiarkan anak bebas bermain sesuka hati tanpa arahan," tutur Pei.

Ada keunikan yang menyempil dibalik Neverland Playground. Di sini, anak-anak bebas bermain, namun Pei menerapkan tiga syarat untuk mereka yang ingin bermain yaitu, jaga kebersihan, jaga antrean dan dilarang ngomong 'anjing'.

"Tiga aturan itu kami terapkan karena di zaman sekarang sulit sekali membuat orang tidak jorok, tidak ingin menang sendiri dan khusus untuk yang terakhir lebih mengarah pada kata-kata itu adalah kata yang paling kasar dan parahnya sudah menjadi habit bagi sebagian anak dan remaja urban saat ini," imbuh Pei.

Selain skateboard, di Neverland anak-anak juga bisa 'bermain' dengan kamera dan juga komputer dan alat-alat sablon.

"Lama kelamaan anak Neverland yang jumlahnya lebih dari 20 anak itu kelihatan kesukaannya. Saya juga sering ngobrol dan menjalin hubungan emosi dengan mereka. Mereka yang suka dengan foto, saya ajari teknik foto. Mereka yang ingin jadi pengusaha saya ajarkan desain menggunakan komputer dan teknik sablon, ya tentunya dengan kapasitas mereka sebagai anak-anak juga," ujar Pei.

Dipilihnya skateboard sebagai salah satu permainan di Neverlands Playground Project juga bukan tanpa alasan. "Skateboard memang terkesan extreme. Tapi
lebih dari itu, olahraga dan permainan ini mengasah pemainnya untuk menjadi orang yang tidak cengeng. Selain itu juga ada elemen ketekunan dan tidak pantang menyerah mempelajari sebuah trik, tolong menolong antar teman dan banyak lagi," tutur Pei.

Pei menambahkan, meski terlihat sibuk dengan aktivitas Skateboard, Neverlands bukanlah tempat mengasah skill anak agar pandai skateboarding.

"Neverlands Playground Project adalah tempat bermain bagi anak manapun baik yang suka skate maupun tidak. Di sini anak-anak bebas berpendapat
dan didengar pendapatnya dan di tempat ini jiwa kekanakan dipelihara," tutup Pei.

Monday, July 19, 2010

Bomboman Bali

Setelah 20 taun belum sempat menginjakkan kaki di Bali, akhirnya kesampean juga tuh menginjak Pulau Dewata taun 2004 kemaren. Lagi-lagi ada insiden perusakpesta di sana. Dan bukan hanya sekali tapi beberapa kali. [hammer godamn].

Kita berangkat pagi sekitar jam 10.00 waktu SMG. Gue dijemput sama Pick Up biru bersejarah bokapnya Edwin Rakhmanto dan sampe ke kampus kita nurun-nurunin barang deh. Setelan Edwin waktu berangkat meyakinkan banget.

Kemeja tangan panjang, feat jas almamater dan topi kampus [bro, kalau gak pake topi disuruh turun ya?]. Sedangkan gue seperti biasa pake t shirt and jeans dengan sepatu baru [ciahh sombong nih haha].

Berbekal kamera film kita foto-foto di bus. Gak kalah hebohnya ArgoGo yang bekel Djarum Super satu slop dan satu set kartu remi plus botol botol minuman surgawi [jeh doyan rak go kowe haha]. Singkat kata gue sebangku sama Edwin dan Argo sebelahan sama Puji yang Psycho.

Mau tau bekel Puji? Dia bawa rokok beberapa bungkus sama kaset-kaset metal [yes we ‘re metal lover although not look so metal]. Kayaknya Puji kebanyakan minum dari botol bekelnya Gogo yang bikin tidur enggak nyenyak. “Go jam piro tekan hotel go?”. Padahal nyeberang Gilimanuk aja belom.

Urusan gulang guling kelar sudah. Kita nyampe di Bali jam 9 pagi waktu sono. Objek pertama kita ke Tanah Lot. Siap-siap pake sabuk pengaman ya, soalnya ini sangat mendebarkan. Gue dengan pedenya menenteng kamera film. Dituturi Edwin di belakang gue.

Tanpa diketahui tiba-tiba laut pasang. Gue yang lagi foto-foto sama Edwin, dan grup cewek-cewek ada Lili, Angel, Titin dan Fitri. Tiba-tiba, duer-duer-duer ombak menghajar! Gue dan Edwin keseret-seret sampai akhirnya nabrak karang dan sandal cewek-cewek kintir semua kena ombak.

Shock lah gue dan Edwin. Gimana enggak, kamera, handphone dan lain-lainnya kecemplung bos. Dengan terengah-engah gue duduk di tepi pantai dan temen yang lain bilang. Hape-hape! Buff mampus hape gue yang umurnya baru berapa bulan udah kecemplung Tanah Lot.

Enggak sempet ngurusin hape, gue sakit pas jalan, ternyata sekujur badan udah kena luka. Akhirnya gue dan Edwin diobatin di posko terdekat. Yang ngobatin gadis Bali bo..so sweet to see. Tapi tetep aja namanya dioles alcohol perihnya minta ampun!.

Habis diobatin Mbah Edi Susanto masih sempet motoin kita-kita. [File fotonya dimana ya win?]. Dan pas mau balik ke bis Argo dan Puji baru keluar dari bus dengan mata merah.” Weh ngopo kui?” kata Argo. Dan langsung gue timpali “Go nyilih katok, cepetan,” dan akhirnya celana pendek gogo bermotif loreng gue pake [keren juga lah] haha.

Perjalanan berikut-berikutnya enggak nyaman sama sekali. Gue cuman diem aja begitu juga Edwin. Meringis-ringis lantaran sakitnya begitu kerasa. Sampe di Hotel, kita berempat satu kamar. Sumpah, malem itu rasanya badan sakit semua.

Indah yang ngobatin gue sampe malem-malem nungguin gue tidur [makasih ya beb]. Besoknya diobatin masih jerit-jerit kesakitan juga. Sumpah panas dan perih lukanya. Tapi lagi lagi si Indah ngobatin gue dengan sabar dan bilang “Malu ah laki-laki jerit-jerit”.

Malem kedua nginep di hotel gue masih kesakitan. Gogo akhirnya ngusulin cari obat. Tapi sial di tengah-tengah mau nyari obat kita malah dikejar anjing. DAMN. Puji yang udah dibawah sadar gelontoran minuman berkhasiat dengan pede mengkomando. “Jo wedi, santai wae!,”

Akhirnya beli obat batal dan kita malah beli sate lontong. Pulangnya kita beli roti bakar dan begitu terus sampe 3 malem di Bali. Perjalanan lain-lainnya sih cukup lucu.
Sampe makan bakso di pinggir Kuta.
Dan selama di Bali, Edwin bergaya bak seorang rocker [dalam versinya waktu itu].
Cuman enggak ada yang lebih spektakuler dari Insiden Bomboman di Tanah Lot itu. [Unforgetable Holiday].