Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Saturday, September 10, 2011

[Jatuh] Cinta//Lagu Cinta



Banyak orang mengasosiasikan saat-saat hati berbunga-bunga dengan lagu. Tidak ada yang salah sebenarnya. Toh selera musik bagi saya adalah urusan yang sangat-sangat personal. Mau dia dengar musik A, X, ataupun U pun bebas-bebas saja.

Namun sedikit mulai mengganggu ketika hujan grup vokal dan band yang mengusung C to the I and N ice T last for the A sebagai tema lagu-lagunya. Oh my gosh batin saya. Efek yang lebih parah adalah ketika banyak pasangan [umumnya para abegeh dan alayers] yang mencoba mencari-cari [dengan sedikit maksa] lagu-lagu yang pas dengan cerita percintaan mereka.

Dari lama saya mendamba, saat berjalan bersama pasangan tidak perlu lagi malu-malu untuk memutar lagu-lagu tensi tinggi. Ataupun dilarang oleh pasangan karena dianggap sesuatu yang enggak bisa dinikmati oleh telinga yang mendayu-dayu. Sungguh suatu hal yang menyiksa batin saya.

Seperempat abad lebih dua tahun dari hidup saya hingga rangkaian kata ini ditulis akhirnya membawa saya pada suatu jawaban akan sebuah penantian. Bagaimana tidak, saya sosoknya sebagai seorang lady rocker. Wih, gila batin saya ketika dia baru bilang sudah pesan presale Children of Bodom. Saya langsung membayangkan bagaimana rasanya pergi ke gigs dengan dia. Padahal waktu itu sebuah ikatan belum terlontar.

Perkenalan yang gila, obrolan-obrolan dengan detil kecil membuat kita sering membuat playlist yang *ehm* bertema hati penuh bunga warna merah jambu. Walau tidak mungkin membuat lagu-lagu metal menjadi soundtrack pengantar makan malam bersama, setidaknya kami punya beberapa referensi 'lagu cinta' yang tidak keliahatan dan tentunya terdengar begitu menye-menye.

Kami tidak memungkiri bila kami suka lagu yang bertema 'hati'. Tentunya dalam porsi yang pas dan ada ceritanya. Entah waktu menjelajah kehidupan di dunia nyata ataupun saat menjelajah ruang maya. Sayang saya tidak bisa mendendangkan sebuah lagupun dari

#np yang saya dan dia buat. Tapi inilah botol dan tutupnya. Saling mengisi, saling menghibur dan banyak lagi hal yang membuat saya kerap tersipu-sipu malu.
Dinyanyikan lagu'kisah perjalanan' oleh wanita tersayang? Oh betapa suatu hal yang sukses mendongkrak asa ke lapisan langit tertinggi dan turun perlahan-lahan hingga mendarat di kasur yang empuk. Nikmat sekali...

Sampai disini, masihkah yang begini pantas dijadikan komoditi? yang jelas lagu #np-Bloc Party-So Here We Are terus menggema di telinga, menemani saya yang sedang merasakan rindu di tengah mata yang terus meminta untuk terpejam barang beberapa jam.

Wednesday, October 13, 2010

Between Music and Gaming


Saya pecinta musik dan penyuka game. Kedengarannya biasa-biasa saja mungkin. Tapi akhir-akhir ini ada fenomena unik yang saya temui [atau saya sadari] bila ada keterkaitan antara game yang dimainkan seseorang dan musik yang didengarkan.

Dulu, zaman masih jadi mahasiswa ugal-ugalan saya sekelas dengan 3 orang gamer freak. Bagaimana tidak freak karena pada saat masuk kelas kantung mata ketiganya hitam kelam karena baru tidur 1 atau 2 jam sebelum kuliah dimulai.

Dua teman saya itu memang suka musik cadas. Setiap hari playlist macam Slipknot, Soulfly, Sepultura, Pantera, Dream Theater, hingga yang kekinian macam As I Lay Dying, Lamb of God, Primer 55 dan segudang grup lainnya jadi makanan kami sehari-hari. Tak jarang kita duduk-duduk di depan kampus sambil ngobrol ngelantur dari yang serius sampai yang bacot-bacot enggak jelas sambil ditemani botol-botol [minuman isotonik, softdrink, susu atau suplemen] dan berbungkus-bungkus kacang.
Karena saya tidak smoking maka saya hanya kebagian asap pembuangan 2 teman saya tadi.

Nah teman saya yang satunya awalnya malu-malu mendengarkan musik cadas. Tapi gara-gara semakin banyak game yang pake musik cadas di dalamnya kayak NFS series, GTA series dan banyak lagi dia keracunan juga. Tadinya dia seorang penggemar J-Music, ujung-ujungnya musik tempo tinggi macam Rancid pun dia telan juga [good job brother E].

Saya baru nyadar kalau teman-teman di kantor saya sekarang banyak yang menyukai musik cadas. Mau yang lokal macam Seringai, Burgerkill, Jeruji sampai yang luar macam Killswitch dan tentunya Slipknot. Selain itu, rata-rata teman sekantor yang gamer addict juga suka musik-musik elektronik entah itu elektropop, atau chiptunes.

Yang sedikit aneh lagi, teman-teman saya yang cenderung mendengarkan musik non mainstream lebih memilih membangun rig berplatform AMD. Sama halnya dengan saya. Apakah ini karena Intel dan NVidia adalah produk-produk mainstream sementara AMD dan Radeon adalah versi non mainstream di dunia rig dan gaming? Saya belum menemukan jawaban yang pasti. Tapi feeling di hati merasa begitu sih [jiahahaa dasar cheap bastard].

Nah, begitu juga dengan sipacar. Dia suka game-game ringan dan lucu. Enggak heran selera musiknya juga yang ringan-ringan. [Belakangan kita suka karaokean bareng]. Sipacar juga gak pernah memikirkan apa yang ada di dalam rignya. Yang penting internet cepat dan kalau dipake kerja enggak lemot. As simple as that. Tapi bukan berarti sipacar buta game juga. Buktinya dia tau Olimpiade Megaxus [so amaze to hear that bonbon].

So, bagaimana dengan kalian? Setuju kalau game mempengaruhi selera musik? Jiahhh,,,bolehlah kita berbacot-bacot ria disini. Come on. Let’s rawkk



and still playing this game

Thursday, August 19, 2010

When the Trash Still in Your Soul


Bwah, bongkar bongkar CD dulu lah cari cari playlist yang pas biar semangat sebelum hit the road sore sore. Hey, apa ini? MARCH-Polymath. Saya langsung teringat sore-sore liputan pensi anak SMA di sebuah gor yang cukup besar di Jakarta.

Sebenarnya yang bikin saya ingat adalah karena itu pertama kalinya liputan pensi dengan audience yang super minim. Padahal konsep acaranya lumayan lah. Nah salah satu pengisi acaranya adalah MARCH. Band trashmetal yang satu ini ternyata berhasil memikat hati saya/

Kenapa? Saya tidak begitu sering mendengarkan band band metal Indonesia yang baru. Karena banyak yang tipikalnya sejenis. Kecuali kalau saya pernah nonton livenya dan ternyata asyik. Seperti juga MARCH.

Sampul albumnya saya suka. Tidak memakai huruf huruf yang ‘berakar’. Tapi tetap menyatakan kalau yang mereka mainkan adalah musik cadas. Nah, beranjak ke track 1 ‘Alpha’ nampaknya MARCH tidak mau menahan tensi pendengar. Disambung Akhir Ambisi yang bernuansa live [padahal rekaman di studio dengan kualitas recording nomer wahid].

Wajar, entah kenapa saya mengira financial band ini lancar, sehingga urusan sound dan lain sebagainya jelas bisa mendapat kualitas yang mumpuni. Track ke-3 “Teori Konspirasi” adalah track favorit saya. Video klipnya sudah banyak beredar di youtube.

Satu lagi poin plusnya adlaah banyak lagu berbahasa Indonesia seperti Fase Emosi Raga, Pemberontakan Metafisis, Konfrontasi, Batas Nalar, dan Merasuki Akal yang lirik liriknya tidak kacangan. Setidaknya mereka sudah berani memakai bahasa sendiri.

Youp, semangat saya sore ini terpompa kembali. Mari kita Hit The Road dengan kecepatan maksimum!

Friday, July 30, 2010

10 Grup HipHop Indonesia yang Patut di Highlight

Bertahun-tahun musik hiphop hidup dan berkembang di Indonesia. Sampai sekarang kita semua pasti sering melihat berbagai penampilan grup hiphop di berbagai acara televisi, panggung hiburan sampe yang muncul di berbagai media massa. Dari sekian banyak grup hiphop di Indonesia, ada beberapa grup yang patut di highlight.

Mereka membuat karya yang original, tidak serta merta mengcopy paste gaya rapper dan musik luar negeri. Bahkan lebih dari itu, mereka membuat musik menjadi media penyampai pesan pada masyarakat.

Grup-grup itu diantaranya

1.Homicide


Grup asal Bandung ini pasti sudah banyak yang tahu. Berdiri tahun 1994 dengan personil Ucok, Azis, Lephe dan DJ E penampilan mereka membuat mata pendengar music [tak hanya hiphop] terbelalak. Lirik-lirik yang diusung adalah kritik pedas, dengan aransemen beat yang luar biasa. Motor dari grup ini adalah Ucok Homicide yang memang kerap terjun sebagai seniman dan ‘pejuang’.

Dalam beberapa aransemennya, Homicide tampil beda dengan grup hiphop kebanyakan dengan menambahkan elemen gitar bahkan full band set. Rilisan dan merchandise band ini begitu banyak diburu hingga pada tahun 2007 Homicide membubarkan diri. Meskipun sudah bubar, api semangat perlawanan yang dikobarkan Homicide tak akan pernah padam.

Influence: The Last Poets, Gil Scott Heron, Fela Kuti, Marvin Gaye, Stevie Wonder, Prince, Curtis Mayfield, James Brown, Public Enemy, Rakim, EPMD, BDP, Run DMC, Gangstarr, Ice Cube, N.W.A., Organized Konfusion, Company Flow, Cannibal Ox, Minor Threat, Black Flag, Bad Brains, Negative Approach, Inside Out, Refused, As Friends Rust, Seein Red, Amebix, His Hero Is Gone, From Ashes Rise, Catharsis, Godflesh, Neurosis, Isis, Merzbow, Boredom, Throbbing Gristle, This Heat, Einsturzende Neubauten, John Zorn, Godspeed You! Black Emperor, Fugazi, My Bloody Valentine, Mogwai, Portishead, Black Sabbath, Slayer, Carcass, Napalm Death, Brutal Truth, Terrorizer, Suffocation, Nasum.

Hits single: Semiotika Rajatega, They School, Rima Ababil, Puritan.

2.Cronik


Yang satu in juga berasal dari Bandung. Berawal dari street Hiphop di kawasan Dago, Cronik menjadi salah satu grup hiphop yang mewarnai dunia music tanah air. Lebih menonjolkan scratch dalam musikalitas dengan lirik-lirik yang tidak cheesy.
Personil DJ SCRATCHY, DJ E-ONE, MC DA BOZZO, MC ELICK, MC ROCZEE

Influence: DJ Kool Herc, Grandmaster Flash, Grand Wizard Theodore, Grand Mixer DXT, DJ Scratch, DJ A-Trak,DJ PREMIER,JURASSIC 5,DJ BABU,JERU DAMAJA,NON PHIXION,PETE ROCK,PEOPLE UNDER STAIR,DILATED PEOpLEs,MIX MASTER MIKE,RUN DMC,NWA,7 L,EL P,DEFJUX,ATMOSPHERE,BROTHER ALI,CRONIK,HOMICIDE,D ARMY,DAMIEN MARLEY,DJ SHADOW,D STYLE,DJ Q BERT,ORGANIZED CONFUSION,PEANUTS BUTTER WOLF,DJ CZA(AHLI FIQR),TEH TARIK CREW,AFU RA,DALEK,PORTISHEAD,MF DOOM,HATE BREAD,PENDULUM,DILLINJA,KANYE WEST,ARSONIST,Dj ziNC,bIrdY nAM naM,JEdI miND TRicKS,BIG PuN,NEPTUNES,JUST BLAZE,PETE ROCK,JIN,LOOPTROOP,LA COKA NOSTRA,CYPRESS HILL,NEcRO,

Hit single: Dendang Duka Pasca Murka,

3. D Army

Grup asal Bandung yang dimotori oleh Gaya [MC], Ghettorude [MC] dan Jay [Beat Artilery] ini menambah warna grup hiphop yang wajib di highlight di kancah musik hiphop Indonesia. Dibawah bendera Remains Record grup ini sempat menelurkan hits-hits yang luar biasa. Beberapa diantaranya adalah ‘2+1 Peluru’, ‘Alas Tanah’ dan ‘Pusaka dan Batu Nisan’.

4. Eye Feel Six

Dimotori oleh Soul Killa (MC) Mind Freeza (MC) DJ Amer (Beat Maker) bisa jadi grup ini adalah reinkarnasi dari vakumnya D Army. Musikalitas mereka banyak terinfluence oleh PUBLIC ENEMY,HOUSE OF PAIN,ONYX,NECRO,RUN DMC,CYPRESSHILL,DALEK,Immortal Technique,Ill Bill,Jedi Mind Trick,hingga grup hardcore macam RYKERS,Downset,Hatebreed, dan band punk Exploited.
Single mereka yang cukup terkenal adalah Irama Jiwa dan Eye Feel Six

5. Angkatan Udara

ANGKATAN UDARA (A.U) terbentuk di akhir tahun 1999. Terdiri atas 4 orang personil. Awalnya A.U berusaha menawarkan alternatif musik elektronik yang bisa dinikmati di panggung – panggung kecil acara 17-an atau panggung- panggung kampus dan sekolahan, Beat elektronik yang diselingi rapping 2 orang Mc’s merupakan bahasa yang kami terjemahkan ke dalam areal musikal. A.U lahir dari stagnasi rutinitas keseharian Jakarta yang begitu terpola. Lantas kami mencoba untuk out of pattern.

Kesibukan masing – masing individu untuk berkompromi dengan hidup membuat A.U menjadi lebih fleksibel dalam hal bermusik. Artinya , sejak tahun 2001 A.U tidak lagi mempunyai personel tetap selain seorang DJ dan seorang MC. A.U menjadi semakin terbuka dengan varian genre musik, sebab kerapkali melibatkan musisi dari aliran musik yang berbeda seperti Tradisi, Jazz, Blues , Rock, Soul, Reggae, serta musik elektonik sendiri.

Atmosfer seperti ini membuat fungsi sosial A.U bergeser menjadi suatu bentuk kolektif musik. A.U merupakan pemberontakan atas pola kehidupan Jakarta yang semakin seragam, paling tidak kami berusaha menawarkan kontradiksi ketika semua telinga mendengarkan opini yang sama. Musik merupakan sebuah proses pembelajaran untuk mencerna realitas hidup. Seperti perjalanan yang kami alami, ketika sebuah ide sederhana untuk memainkan music Rap ( DJ & MC ) membawa kami menuju pintu eksplorasi musik yang lebih luas lagi, sewaktu Rap harus bersinggungan dengan genre musik lain. Kesadaran inilah yang memotivasi A.U untuk terus bereksplorasi dan terbuka dengan semua jenis aliran musik. Hidup tanpa alternatif akan menjadi buntu. Angkatan Udara mencoba menawarkan ruang alternaitf baru dalam menterjemahkan realitas sosial Jakarta yang semakin kompleks.

=DISCOGRAPHY= • “ Pecundang “ ( kompilasi Berontak volume 2 / Rontak Records ) 2002 • “ N****** lah A***** lo “ ( kompilasi Kampus 24 jam non stop / IKJ Records ) 2003 • Workshop Video Musik – GOETHE INSTITUTE ( Video Clip “ Pecundang “ / Ruang Rupa ) 2004 •

6. Modus Operandi


Grup asal Semarang yang berdiri tahun 2002 ini mencampurkan beat gahar yang dipadu lirik pedas dari MC Quatro. Scratch dari DJ Killa semakin menguatkan musikalitas grup ini. Mendengar grup ini saya selalu teringat dengan Non Phixion, grup Hip Hop asal Amerika.

Sayang, gaung grup ini lama tak terdengar. Namun hits single mereka seperti ‘Narcisis’, ‘Kudeta’, ‘Interogasi’, ‘Insomnia’ dan ‘Armada Aksara’ jelas tidak bisa dipandang sebelah mata.

7. Molothuvz

Grup ini menyebut dirinya sebagai Jurnal kollektive exsperimental-ishm Rapp/hiphop posse. Liriknya dalam dan musikalitasnya unik. Pernah berkolaborasi dengan grup The Paps dari Bandung.

Beberapa rilisannya adalah : Najist anarko ( Punk Hiphop - 1996 ) Damaja click ( Lyricist-jeepbeats 1998 - 1999 ) Bootsouljah ( Hororcore Hiphop 1999 - 2001 ) Sound da clan ( minoraptaz album - 2000 ) City document ( Hiphop jazz - 2004 ) Madrotter ( 18 sling-shot mixtapes ) -- Track record: 1st albums: Love&Rezpect contains 13 trackz ( 2005 Released by napi records ) Under-construction soundbombing project.. "F.B.B. Vol.1" Deepsmoke mixtape project ( 2008 )

8. Rotra

Grup asal Kota Gudeg ini dimotori oleh Rajapati dan Gantas. Dari keinginan untuk membentuk sebuah grup rap akhirnya terwujud, bersamaan dengan akan dirilisnya album kompilasi Provokateur (2001), dengan bantuan Calludra mereka mempersiapkan single, untuk diikutsertakan dalam album kompilasi tersebut, kemudian... - 1 lagu demo judul Versus masuk di Kompilasi Provokateur th 2001

Awal th 2002 Adhitama mengundurkan diri - pertengahan th 2003 Gantas eks Calludra bergabung serta dibantu additional dj (DJ Seno) - Gantas pernah menjadi anggota grup NFA (1995) Geronimo Rapper Crew (1996) G-Tribe (1996-1999) Calludra (1999-2003).
Gantas juga menjadi music director di album : 1. Kompilasi Perang Rap (2001) dg single hits: Dobrak 2. Wisha Edutainment (2003) dg single hits: Serasa, Ala Reggae
3. Brotherhood (2003) Lagu: Salahkah 4. Oka (2004) Lagu: Mad Music 5. The Garis Keras Project (2004) 6. Xcalibur (2005) 7. Rapvolusi (2006) Lagu: Fu Clan, Jagal Pabu, Tentang Sahabat 8. Poetry Battle Jogja Hip-Hop Foundation (2007)

Hits single: Ngelmu Pring, Ora Cucul Ora Ngebul dan banyak lagi.
Yang istimewa, lagu-lagu Rotra kebanyakan didominasi oleh lirik berbahasa Jawa.

9. BSK


Salah satu grup Hiphop dari Semarang yangkerap tampil sepanggung bersama ModusOperandi ini membawa spirit graffiti, flatland dan sablon dalam musikalitasnya. Penampilannya selalu unik dan kadang diwarnai dengan semburan api dari aerosol yang dibakar.

Motor dari grup ini adalah Rayap, Hace, Mowo dan DJ Killa. Dibantu oleh Quatro dibeberapa track seperti ‘ArtCrime’ yang menceritakan tentang seni vandalisme graffiti. Single-single lainnya seperti Blacklist dan Goresan juga mencerminkan bila Indonesia memiliki grup hiphop yang tidak biasa.

10. Sundanis

Merasa peduli akan budaya Sunda, salah satu personil D Army, Ghettorude mendirikan grup HipHop Sundanis. Sesuai prinsipnya, lirik lagu di grup ini akan didominasi lirik Bahasa Sunda. Bahkan tak jarang grup ini tampil berkolaborasi dengan grup kesenian Sunda.
Hits single: Awewe Geulis, Kamana Atuh Gaya.

Thursday, July 29, 2010

Meracau, Memaki dan Berjingkrak Bersama Kelas Ajag


Sebenarnya grup ini bukanlah grup baru. Kelas Ajag hidup sejak pertengahan tahun 2000 lalu. Namun kesibukan personilnya masing-masing membuat band ini pun mati suri selama hampir 10 tahun. Berawal dari ide gila calon-calon seniman muda saat masih berseragam putih abu tahun 2000 lalu, 4 lelaki yang sudah mengakrabi dunia musik punk [said it loud PUNK!] tanpa embel-embel melodic atau pop atau lainnya.

Padanan yang saya kira paling pas untuk Kelas Ajag adalah chaos dan rock. Ketika ditanya mengapa memilih PUNK mereka enggan menjawabnya. Karena bagi mereka punk bukan pilihan melainkan sebuah pergerakan melawan ketidak adilan.

Menyoal nama, Kelas Ajag ogah memperpanjang definisi. Ide memakai nama Kelas Ajag datang dari sang vokalis Miink. Soal artinya, silahkan kalian mendefinisikan sendiri karena itu bebas!. Perjalanan mereka berempat cukup lancar. Mereka tidak memilah-milah panggung dari panggung scene komunitas sampai pensi hingga acara internal sekolah pun akan tampil dengan segenap kekuatan dan amunisi yang siap memerahkan telinga!.

Awalnya, personil Kelas Ajag adalah Miink [vox/ngacaphrux/bacot], Yuda [Bas], Kesyang [Gitar] dan Andi [drum]. Tahun 2002 mereka memutuskan untuk vakum karena harus menuntaskan tanggung jawab di bangku perkuliahan. 10 tahun dari mereka berdiri, semangat AJAGISME tidak luntur begitu saja.

Hanya, tidak semua masih memiliki paham yang sama. Kelas Ajag harus kehilangan drummer karena dirinya lebih memilih untuk berkarir di dunia tarik suara. [FYI, Andi adalah salah satu kontestan ajag tarik suara terbesar di Indonesia baru baru ini] dan akhirnya merekrut drummer baru plus satu gitaris tambahan.

Dari masih berusia belia, lirik-lirik yang diusung sudah merupakan wujud perlawanan akan ketidak adilan system. Lagunya yang sangat hits adalah SiBoTarBol,berisikan kritik yang dilayangkan pada orang yang memiliki label akademis tapi tidak pernah menghargai kreativitas anak didiknya. Lagu lagu lain seperti Serdadu Onani juga tak kalah menarik. Dan rencananya, mereka akan merekam single-single lama mereka ini dalam waktu dekat.

Soal aksi panggung, bisa dipastikan Kelas Ajag bukanlah tipikal band yang hanya mau manggung dengan sound sekian, ataupun segudang raiders lainnya. Kematangan bermusik dipadu skill akademis personil membuat mereka tak segan untuk tampil di event-event budaya. Bahkan kostum panggung mereka pun tidak mesti menggunakan atribut yang dimata anak muda sekarang begitu ngepunk.
Musikalitas yang tadinya bersenjatakan 3 chords, kini berubah menjadi semakin kompleks. Tanpa kehilangan benang merah mereka sebagai musisi di genre PUNK!

Tuesday, July 27, 2010

Cantik, Cadas dan [Masih] Virgin


Bagi sebagian orang, musik cadas dianggap musiknya kaum adam. Namun jangan salah, kaum hawa pun bisa kepincut.

Begitupun dengan gadis-gadis belia asal Bandung yang tergabung dalam Virgin Oi. Mereka telah menjajal kemampuan bermusik selama lima tahun di aliran skinhead dan punk.

Berawal dari kegemaran Sarah (Gitar), Dewi (Bas) dan Dina (Vox) terhadap musik skinhead, mereka yang sempat satu sekolah selama SMP dan SMA akhirnya sepakat untuk bersama-sama membentuk band di tahun 2002.

"Kita sama-sama suka musik skinhead, yah skinhead girl lah bisa dibilang. Makanya kami sepakat untuk ngeband bareng. Kebetulan pas itu ada Rani yang juga suka skinhead dan bisa nge-drum. Dari sana kita jalan ber-empat. Karena kita semua cewek-cewek yang masih virgin, jadilah kita menamai bandnya Virgin Oi" tutur Sarah.

Dengan membentuk band cewek, Sarah menilai perempuan pun memiliki hak yang sama dengan laki-laki, termsuk dalam bermusik. "Selama ini orang selalu beranggapan kalau yang boleh ngeband dan ngebawain musik cadas hanya laki-laki, padahal laki-laki dan perempuan sama-sama punya hak untuk berkarya," ujar Sarah.

Tahun 2003, Virgin Oi sempat masuk album kompilasi 'Oi Live Forever di Tahun 2003 dengan hits single 'Girl With The Power'. Ternyata, single ini mendapat respon positif oleh komunitas dan sebagian publik.

"Lumayan lah, berbekal dari satu single itu, kita bisa lumayan sering manggung," ujar Sarah bangga.

Namun, ditengah-tengah usaha Virgin Oi mendaki karir, satu per satu personel mulai mengundurkan diri. Diawali dengan keluarnya Dewi di tahun 2003 karena menikah dan sibuk dengan keluarganya. Menyusul hengkangnya Rani karena sakit sehingga tidak memungkinkan lagi menabuh drum.

"Sempat saya jalan berdua dengan Dina, sampai akhirnya bertemu dengan Ayu (vox) dan Ochi (drum) di tahun 2006. Karena butuh pemain bas jadi tiap manggung kita pakai additional player Eko," tutur Sarah.

Namun lagi-lagi formasi ini tidak bertahan lama, Ayu dan Ochi pun harus meninggalkan Virgin Oi yang akhirnya digantikan oleh Desi (vox) dan Rhilie (ex.
Boys Are Toys) di bas.

Meski harus jungkir balik untuk mempertahankan Virgin Oi, Sarah cs tetap berusaha bertahan untuk terus berkarya di dunia musik cadas. "Untungnya setiap ada yang keluar, yang mengganti tidak pernah terlalu lama. Kebetulan pula chemistry yang sekarang udah sama-sama kuat, jadinya semakin
semangat dalam berkarya," ujar Sarah.

Dalam waktu dekat, Virgin Oi berencana akan merilis album perdana mereka. "Materi sudah selesai 10 lagu, tinggal kita record. Mudah-mudahan bisa rilis akhir tahun ini," tutur mereka kompak.

Sunday, July 11, 2010

Saat Closet Bermain Rock

Ketika banyak band berlomba-lomba mencari nama yang dianggap 'keren', sebuah kesederhanaan muncul dari sekelompok anak muda Bandung yang sama-sama menggemari musik rock. Terinspirasi dari properti kamar mandi closet, anak-anak Closehead akhirnya sepakat menjadikannya sebagai nama band mereka.

"Kita mulai ngeband sejak tahun '97. Ada Lamlam (Vokal&Bas), Aido (Gitar&Backing Vokal) dan Ijan (Drum) yang sama-sama teman se SMP dan SMA dan kepengen ngeband cari-cari nama yang gampang diingat. Tadinya sih enggak akan dirubah, ya closet saja. Cuma biar terdengar lebih kreatif, jadinya kita rubah jadi Closehead," ujar Ijan.

Dari awal merintis karir musiknya, Closehead sudah memantapkan langkah untuk berkarir di jalur musik pop punk. "Kalau dulu, karena lahir di zaman Saparua juga kita lebih dikenal beraliran melodic core. Jadilah itu benang merah musikalitas kita hingga sekarang," ujar Aido.

Selama 12 tahun eksis, Closehead bisa dibilang cukup produktif dalam berkarya. Tak kurang dari 15 album kompilasi, satu mini album dan satu split album telah ditelurkannya.

"Kita kerap melempar single, yang dimasukan ke berbagai kompilasi band-band beraliran sejenis. Diantaranya ada New Generation Calling, Berpacu Dalam Melodic dan New Buzz. Kita juga sudah merilis mini album What's Next di tahun 2002 dan split album bersama Disconnected di tahun 2007 lalu," tutur Lamlam yang diamini Aido dan Ijan.

Uniknya, Closehead sengaja melempar musik yang diperuntukan bagi kaum remaja. "Konsep awalnya memang ingin menggaet pasar remaja. Jadi semacam bisa jadi soundtrack hidup bagi mereka biar terus optimis dan semangat," tambah Aido lagi.

Buah kerja keras Closehead dalam bermusik kini telah mulai terasa, hits single mereka seperti 'Berdiri Teman', 'Menunggu Bintang Terang' dan 'Menjelang Hilang' kerap kali mondar-mandir di playlist radio lokal.

"Yah, ini yang kami syukuri. Dari yang tadinya untuk manggung saja harus bayar. Sekarang kami sudah bisa menikmati hasil dari kami manggung. Sudah begitu manggung kami semakin luas scopenya. Tidak hanya komunitas, tapi sudah melebar ke pensi hingga acara-acara yang cukup besar," ujar Aido.

Lirik berbahasa Indonesia yang digunakan Closehead dalam menyusun komposisi musik rupanya menjadi salah satu senjata jitu dari band yang banyak terinspirasi oleh Not Available, NOFX, MXPX, dan Blink 182 ini.

"Meskipun bikinnya sulit, efeknya cukup bagus ke kitanya. Tawaran manggung pun sampai keluar Jawa. Mungkin karena lirik bahasa negeri sendiri lebih mudah diingat atau dipakai sing a long," tutur Lamlam.

Kedepan, band yang menyebut pendengarnya dengan Closefriends ini berencana akan menuntaskan obsesi awal mereka membentuk band, yaitu memiliki full length album.

"Rencana sih tahun ini. Tapi buat Closefriends, jangan pernah menunggu album baru Closehead. Lebih baik membeli atau mendengarkan. Karena menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan," seloroh Aido

Sungsang Lebam Telak, si Superjazz

Untuk sebagian orang, musik jazz adalah musik yang eksklusif dan berkelas. Namun tiga orang anak muda asal Bandung yang tergabung dalam Sungsang Lebam Telak (SLT) berhasil mengubah image itu. Mengemas jazz menjadi tidak biasa, dan membuat aliran baru bernama superjazz.

Berawal dari ide Gembi, yang membuat komposisi resital piano namun dibuatnya secara 'ugal-ugalan' dan ingin dimasukan kedalam konsep full band.

"Dari resital piano yang digarap di tahun 2004 itu, saya mulai mencari partner untuk ngeband. Akhirnya terbentuklah Psychedelic Urban Romance. Namun entah kenapa, band itu enggak jalan dan hanya jadi sekedar nama, tapi bisa dibilang itu embrio SLT," tutur Gembi ketika ditemui detikbandung.

Setahun kemudian, Gembi dan sahabat sekampusnya Dani kerap menyambangi salah satu toko buku yang kerap jadi tempat nongkrong komunitas.

"Waktu jamannya masih sering ke If Bookstore, saya dan Age sering membuat sesuatu yang dinilai enggak beres dan menyalurkan dalam musik. Dari jam session antara Age, saya dan Dani, langsung tercetus begitu saja nama Sungsang Lebam Telak," tutur Gembi.

Bertiga, mereka menyusun musik yang begitu asal-asalan. Tapi para personil SLT sepakat bila musik yang mereka usung berasal dari disiplin musik jazz.

"Kita adalah penggemar jazz dan memainkan musik jazz. Soal bagaimana bentuk jazznya itu adalah hak kita dalam berkarya. Makanya kami sebut aliran musik kita adalah superjazz, jazz luar biasa," ujar Gembi.

Jika mendengar lagu-lagu SLT atau menyaksikan shownya, jangan harap menemukan bebunyian jazz yang anggun dan kalem seperti banyaknya musisi jazz kebanyakan.

"Kita adalah orang-orang tanpa skill musik berlebih yang menggarap jazz. Jazz iya, bukan eksperimental. Kalau eksperimental bisa jadi butut dan bisa jadi juga sangat keren," imbuh Gembi.

Namun berbekal kegilaan ini, SLT mendapat apresiasi luar biasa dari pendengar musik tanah air. "Banyak penonton dan pendengar yang sampai 'termakan' musik kami. Panggung ke panggung di Jawa dan sekitarnya sudah pernah dicicipi. Padahal lebih dari itu, kita hanya ngebegoin penonton dan ngebegoin diri kami sendiri yang tidak bisa bermusik tapi memainkan musik yang dianggap 'keren'," tandas Gembi.

Musik Pertemanan dari Goodboy Badminton

Apa arti pertemanan bagi anda? Pasti anda akan merasakan sesuatu yang kurang lengkap jika teman tak ada di sisi. Melalui musik, makna pertemanan inilah yang ingin disampaikan oleh sekelompok anak muda asal Bandung yang tergabung dalam grup musik Goodboy Badminton.

Semua berawal dari 'kegilaan' Rahmat a.k.a Mutt (Vox&Guitar) yang ingin meramaikan ranah permusikan Bandung. Berbekal pertemanan satu tongkrongan ketika menyaksikan pertunjukan musik, Mutt berkenalan dengan Rambo (Bas) dan seorang bule asal Jerman, Christopher (Gitar) di tahun 2006.

"Dari kenalan sana-sini akhirnya saya kenal dengan Rambo dan Christop, sama-sama hobi bermusik, jadilah kita bikin band bertiga," tutur Mutt kepada detikbandung.

Karena mereka tidak mungkin bermusik tanpa pemain drum, akhirnya mereka merekrut Doni (ex-Rocket Rockers) di tahun yang sama.

Menyoal nama Goodboy Badminton, mereka memiliki jawaban yang unik dan nyeleneh. "Kami semua, adalah anak baik-baik. Senakal-nakalnya juga masih sebatas keisengan masa remaja. Makanya kami memutuskan memakai kata Goodboy. Kalau Badminton nya sih tambahan dari Ucay (Vox&Synth Rocket Rockers) yang juga teman dekat kita untuk menambahkan kata yang unik dan mudah diingat,"
ujar Mutt.

Uniknya, sejak awal Goodboy Badminton tidak pernah mengcover lagu band lain setiap kali manggung. "Kami enggak bakat untuk meniru band lain yang sudah terlampau hebat," ujar Mutt seraya tertawa.

Merasa formasi berempat kurang seru, Mutt cs memutuskan untuk memasukkan elemen synthesizer kedalam musik mereka.

"Kita ingin membuat sesuatu yang seru dan bersemangat, makanya kita pake synth. Tapi sempat bingung juga, soalnya agak susah nyari pemainnya. Makanya sampai 2009 awal kita masih pake Upit (C.U.T.S & Boys Are Toys) baru setelah Upit sibuk dengan C.U.T.S posisinya digantikan oleh Yuwan," ujar Mutt yang diamini keempat personil lain.

Seperti banyak band lainnya, pergantian personil juga terjadi di Goodboy Badminton. "Tahun 2007 Christopher harus keluar karena kembali ke negara asalnya dan digantikan oleh Nanu. Selain itu Rambo juga hengkang karena alasan pribadi dan digantikan oleh Husein," tambah Mutt.

Meski masih bisa dibilang baru, Goodboy Badminton terbilang produktif dalam membuat lagu dan selalu direspon positif oleh pasar.

Terbukti sejak muncul dan melempar hits 'Alert-alert Lindsays' dan 'It So Last Year' di tahun 2006, nama Goodboy Badminton sontak meroket dan mulai kebanjiran order manggung.

"Itu yang kami syukuri, untuk band yang belum lama eksis, lagu-lagu kami sudah direspon baik oleh publik," ujar Mutt yang diamini personil lainnya.

Berbekal pengalaman jam manggung, Goodboy Badminton pun semakin produktif dalam membuat materi musik. "Kita enggak mungkin manggung dengan lagu yang itu-itu saja, makanya kita mau enggak mau harus rajin bikin lagu," ujar Mutt.

Band yang banyak terinspirasi oleh Sunny Day, The Rentals dan Sendal Jepit ini berencana untuk merilis album perdana mereka di bulan Oktober 2009 ini.

"Materi sudah siap dan akan diluncurkan Oktober nanti. Isinya masih membahas seputar pertemanan, dan kebanyakan memang pengalaman nyata yang kita dan teman-teman semua alami," ujar Mutt.

Sejumlah single anyar yang kerap dibawakan Goodboy Badminton setiap manggung seperti Panggung Komedi, Semester Terakhir, Kartu Mati dan Kontroversi Dunia memang banyak menyuarakan soal pertemanan.

Namun ketika ditanya apakah pertemanan membawa mereka menuju ketenaran, Goodboy Badminton menyikapi dengan bijak. "Itu sangat mungkin terjadi, tapi yang jauh lebih penting adalah jika suatu saat menjadi tenar jangan pernah lupa dengan teman-teman kita dahulu," tutur Mutt cs kompak.

Ketika Anak-anak Belajar Nge-Rock


Mungkin bagi sebagian orang musik rock adalah milik mereka yang sudah dewasa. Namun rock akan semakin unik bila dimainkan oleh mereka yang masih berumur belia.

Seperti yang dilakukan oleh anak-anak Hamlet, band yang mengusung aliran classic rock ini semua personelnya masih berusia sangat muda. Semua personelnya, berusia 11 tahun. Bahkan, jika melihat postur tubuhnya, akan banyak yang mengira mereka bukan pemusik.

Hamlet yang ditemui usai manggung menuturkan mereka ingin bermusik secara serius dan tidak sekedar main-main. "Kami ingin bermusik sungguh-sungguh, biar bisa jadi artis," tutur Nadia, vokal sekaligus pegang keyboard.

Band yang terbentuk sejak 24 Maret 2007 itu, awalnya adalah pemusik individu yang gemar bermain music rock. "Tadinya kami bermusik sendiri-sendiri, nah kebetulan orang tua kami semua saling kenal, jadi kami dipersatukan ke Hamlet ini," tutur Febri sang pemain gitar.

Sejak terbentuk 2 tahun lalu, personel Hamlet tidak pernah berganti, yaitu Nadia (Vocal/Keyboard) Febri (Lead Guitar), David (Bas) dan Farhan (Drum).

Sekalipun masih anak-anak, namun Hamlet membuktikan bahwa mereka tidak setengah-setengah dalam bermusik. Terbukti setiap mereka perform, riuh renyah tepuk tangan penonton selalu menghiasi penampilan mereka.

"Kami tidak ingin sekedar tampil lucu-lucuan, namun kami memang total bermusik," tutur Febri yang mengaku menggemari Van Halen dan The Beatles ini.

Febri mengaku referensi musik Hamlet adalah classic rock seperti Guns n' Roses, Europe, Bon Jovi dan seluruh rock periode 80-90an. Sementara David, sang pembetot bas mengaku sudah bermain bas sejak usia 4 tahun. "Dari kecil saya sudah dibiasakan main gitar sama papa," tutur David.

Di usia yang masih belia, Hamlet pun tidak sekedar mengcover lagu-lagu milik orang, namun sudah mengaransemen lagu sendiri. Di tahun 2009 ini, Hamlet sudah meluncurkan album perdana mereka yang bertitel Cinta Pertama dibawah label Venus Record. Hamlet membuktikan bahwa bermusik tidak memiliki batasan usia. Kreativitas Hamlet sudah membuktikan itu.

Gado-Gado Musik Ala Disco Ethnic Percussion

Mungkin kita sering merasa disko adalah musiknya anak muda yang sering keluyuran di klub malam dan musik etnik adalah musik yang membuat ngantuk dan hanya cocok untuk dimainkan diacara kawinan atau seremonial lainnya. Bagaimana jika kedua aliran musik yang berseberangan itu dikawinkan? Disco Ethnic Percussionlah jawabannya.

Awalnya anggota Disco Ethnic Percussion adalah anak-anak satu SMU yang menyukai perkusi dan ikut ekstra kurikuler perkusi.

"Kita memang suka dengan perkusi sejak dulu, terus kita gabung di ekskul perkusi dan sering tampil diacara-acara sekolah," tutur Abe Aditya sang mantan pemain gamelan merangkap manager.

Namun waktu tiga tahun mereka bermain perkusi bersama selama di SMU tidak lantas membuat anak-anak Disco Ethnic Percussion menghilang begitu saja usai lulus SMU. "Mungkin karena begitu sukanya kita pada perkusi sampai lulus sekolahpun kita masih ingin bermain perkusi, tapi dengan format yang lebih fresh dan bisa menjangkau audiens yang lebih luas," ujar Abe.

Merasa ingin memperluas jangkauan pendengar dan mengeksplor musik, Abe dan teman-teman pun memutar otak, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat grup yang menggabungkan musik tradisional yang lembut dan musik disko yang enerjik.

"Awalnya kita sekedar ingin membuat kolaborasi perkusi, namun setelah dipikir-pikir unik juga jika membuat konsep gabungan seperti ini. Akhirnya kami sepakat memasukkan unsur DJ, Drum, Gitar, Bas, Violin dan Keyboard plus set gamelan lengkap dan tentunya perkusi," tukas Abe.

Uniknya lagi, mereka sengaja tidak menggunakan vokal disetiap penampilan mereka. "Kita memang sepakat untuk tampil tanpa vokal, kecuali dalam format kolaborasi dengan vokalis lain," tutur Abe.

Saat ini jumlah personel Disco Ethnic Percussion ada 12 orang. "Personelnya kadang tidak sama, jadi agak bingung untuk menyebutkannya," ujar Abe.

Grup yang memulai debutnya sejak tahun 2005 ini telah menuai prestasi yang cukup banyak. "Ya, sejak mulai main 4 tahun lalu kita lumayan banyak mendapat tawaran manggung, umumnya di acara-acara kebudayaan dan sering juga di acara-acara musik," tutur Abe

Abe menambahkan pengalaman Disco Ethnic Percussion yang paling membanggakan adalah ketika tampil di MTV tamu istimewa pada tahun 2008. "Pokoknya panggung itu takkan pernah terlupakan, MTV Tamu Istimewa edisi khusus bersama T2 dan Maliq and d'essentials dimana kita mendapat prestasi best performance," ujar Abe.

Terkait masalah rilisan Disco Ethnic Percussion berencana untuk merilis mini album berisi 6 lagu pada bulan Agustus mendatang. "Sengaja kami merilis EP, padahal kami sudah punya 12 materi yang matang. Sisanya akan kami bawakan pada saat manggung, biar penggemar kami selalu menyaksikan penampilan kami," seloroh Abe.

Keroncong Nikmat yang Hip Hop

Keroncong dan hip hop seringkali berseberangan, terutama soal penikmatnya. Tapi dengan usaha keras, Cronik meramunya menjadi aransemen musikalitas yang unik.

"Sebenarnya sih keroncong nikmat itu pelesetan dari anak-anak (kru, red) karena kita suka masuk-masukin berbagai elemen musik ke musik kita, utamanya etnik dan ada keroncong juga lah. Jadilah nama Cro-nik dari keroncong yang nikmat, padahal kita ya hip hop dasarnya," ujar Riza dan Elick, dua personil Cronik ketika ditemui detikbandung.

Riza menambahkan Cronik sendiri berawal dari sebuah grup hip metal Pecadillo yang dibentuk oleh Elick sejak tahun '99. "Waktu itu formasi awalnya full band dengan DJ set, namun karena kesibukan beberapa personil Pecadillo sempat vakum hingga tahun 2002," tutur Riza.

Berbekal kegemaran akan musik yang memakai DJ, Riza dan Elick menjajal manggung di acara hip hop jalanan. "Waktu itu tahun 2002, kebetulan dekat sama komunitas hip hop, ada acara hip hop kaki lima yang digelar secara rutin di Dago. Pas itu manggungnya masih tanpa nama, belum dengan nama Cronik," seloroh Riza.

Setelah beberapa lama manggung di hip hop kaki lima, Elick dan Riza bertemu DJ E-One. "Nah Iwan ini yang ngajakin bikin grup hip hop dengan nama Cronik," sambung Riza lagi.

Pada awalnya personel Cronik berjumlah enam orang. "Waktu itu kita bikin Cronik dengan formasi tiga DJ dan tiga MC, yaitu Is-Flip (DJ), Agung a.k.a Scratchy (DJ), E-one a.k.a DJ E, MC Elmo, MC Riza dan MC Elick, pokoknya mirip-mirip dengan Jurassic 5 dan Executioner (grup hip hop asal USA, red)," seloroh Elick.

Uniknya sejak awal berdiri Cronik sudah membawakan lagu kreasi mereka sendiri. "Dari awal memang kita sepakat membawa lagu sendiri, dengan menonjolkan DJ sebagai elemen utamanya. Istilahnya 'turntablist'," tutur Riza.

Namun formasi awal Cronik tak bertahan lama, karena satu dan lain hal Iis a.k.a Is-Flip harus meninggalkan Cronik dan digantikan oleh Odotto pada tahun 2004.

Dengan formasi barunya Cronik semakin kebanjiran job manggung. Baik di Bandung ataupun di kota-kota lain. "Lumayan lah, dari acara kecil, mulai merangkak ke pensi-pensi di berbagai kota," tutur Riza bangga.

Pada tahun 2005 Cronik merilis E.P pertamanya, bertitel 'Rise'. E.P pertama merekapun direspon secara positif oleh publik. "Yah mungkin karena kita gak underground banget, juga gak bling-bling jadinya kita lebih mudah diterima publik," ujar Riza.

Bicara soal lirik, Cronik tidak hanya menyemprotkan lirik pedas dan kritik sosial, tapi juga ada tema pesta dan klub. "Kita campur aja semua idealisme personil Cronik, kalau musikalitas pasti kita campur elemen etnik soalnya kita semua suka musik etnik," tutur Riza lagi.

Karena keunikannya, grup yang akan merilis album teranyarnya tahun 2009 ini sering mendapat tawaran manggung di acara-acara besar. Sebutlah Dago Festival, Soundrenaline hingga panggung jazz internasional Java Jazz Festival juga pernah dicicipi oleh grup hip hop multi talenta ini. "Tentu itu sebuah berkah, hobi yang menghasilkan," seloroh Riza seraya tertawa.

Namun kesuksesan mereka masih diiringi keluarnya Odotto pada tahun 2009. "Biasa, kesibukan keseharian, sekarang sih kita jalan berlima aja," tutur Riza yang diamini Elick.

Meski sudah sering tampil di acara-acara besar Cronik tidak lantas menjadi kacang yang lupa kulitnya. Terbukti mereka tetap eksis tampil di acara-acara komunitas dan mereka pun sempat membuat album amal untuk Aceh 'Mempetisi Langit' di tahun 2005.

"Gak mungkin lah kita 'lupa', komunitaslah yang membesarkan kita," tutur Elick dan Riza.

Saatnya Kaum Hawa Usung Musik Cadas

Bagi sebagian orang, musik cadas dianggap musiknya kaum adam. Namun jangan salah, kaum hawa pun bisa kepincut.

Begitupun dengan gadis-gadis belia asal Bandung yang tergabung dalam Virgin Oi. Mereka telah menjajal kemampuan bermusik selama lima tahun di aliran skinhead dan punk.

Berawal dari kegemaran Sarah (Gitar), Dewi (Bas) dan Dina (Vox) terhadap musik skinhead, mereka yang sempat satu sekolah selama SMP dan SMA akhirnya sepakat untuk bersama-sama membentuk band di tahun 2002.

"Kita sama-sama suka musik skinhead, yah skinhead girl lah bisa dibilang. Makanya kami sepakat untuk ngeband bareng. Kebetulan pas itu ada Rani yang juga suka skinhead dan bisa nge-drum. Dari sana kita jalan ber-empat. Karena kita semua cewek-cewek yang masih virgin, jadilah kita menamai bandnya Virgin Oi" tutur Sarah.

Dengan membentuk band cewek, Sarah menilai perempuan pun memiliki hak yang sama dengan laki-laki, termsuk dalam bermusik. "Selama ini orang selalu beranggapan kalau yang boleh ngeband dan ngebawain musik cadas hanya laki-laki, padahal laki-laki dan perempuan sama-sama punya hak untuk berkarya," ujar Sarah.

Tahun 2003, Virgin Oi sempat masuk album kompilasi 'Oi Live Forever di Tahun 2003 dengan hits single 'Girl With The Power'. Ternyata, single ini mendapat respon positif oleh komunitas dan sebagian publik.

"Lumayan lah, berbekal dari satu single itu, kita bisa lumayan sering manggung," ujar Sarah bangga.

Namun, ditengah-tengah usaha Virgin Oi mendaki karir, satu per satu personel mulai mengundurkan diri. Diawali dengan keluarnya Dewi di tahun 2003
karena menikah dan sibuk dengan keluarganya. Menyusul hengkangnya Rani karena sakit sehingga tidak memungkinkan lagi menabuh drum.

"Sempat saya jalan berdua dengan Dina, sampai akhirnya bertemu dengan Ayu (vox) dan Ochi (drum) di tahun 2006. Karena butuh pemain bas jadi tiap manggung kita pakai additional player Eko," tutur Sarah.

Namun lagi-lagi formasi ini tidak bertahan lama, Ayu dan Ochi pun harus meninggalkan Virgin Oi yang akhirnya digantikan oleh Desi (vox) dan Rhilie (ex.
Boys Are Toys) di bas.

Meski harus jungkir balik untuk mempertahankan Virgin Oi, Sarah cs tetap berusaha bertahan untuk terus berkarya di dunia musik cadas.

"Untungnya setiap ada yang keluar, yang mengganti tidak pernah terlalu lama. Kebetulan pula chemistry yang sekarang udah sama-sama kuat, jadinya semakin semangat dalam berkarya," ujar Sarah.

Dalam waktu dekat, Virgin Oi berencana akan merilis album perdana mereka. "Materi sudah selesai 10 lagu, tinggal kita record. Mudah-mudahan bisa rilis akhir tahun ini," tutur mereka kompak.

Musik Elektronik Itu Mudah dan Murah!

Sebagian orang beranggapan musik elektronik 'mahal' lantaran segudang alat yang harus dipunyai. Tapi band veteran asal Bandung Mobilderek membuktikan musik elektronik murah tapi meriah.

"Ah kata siapa musik elektronik mahal? Justru pandangan itu kebalik. Coba kalau bikin band biasa. Harus punya gitar, drum, bass dan banyak lagi. Kalau elektrik mau sendirian pun bisa," tutur Ervan yang merupakan DJ dan music programmer Mobilderek.

Terkait banyaknya properti yang harus dimiliki oleh grup musik elektronik, Mobilderekpun serta merta menampiknya. "Banyaknya alat itu kan hanya kelihatannya, apalagi sekarang udah zamannya teknologi digital. Tinggal beli software yang sekarang sudah semakin banyak bajakannya, dan berkreasi. Kalau mau manggung, bawa aja laptop pinjeman dan bawa controller," ujar Ervan.

Mobilderek juga menepis anggapan bila band elektronik tidak bisa memainkan instrumen manual. "Itu sih tergantung orangnya, tapi banyak koq yang bisa, termasuk Mobilderek. Tapi yang jelas pemain musik elektronik pun pemusik," tutur Ervan seraya tertawa.

Banyaknya pandangan yang menganggap musik elektronik adalah musik yang membutuhkan keahlian tingkat tinggi dalam teknologi komputer dan olah suara.

"Nah ini yang keliru, ada teman saya yang musisi elektronik juga. Dia gaptek ke komputer, tapi musiknya keren banget malah," ujar Ervan.

Ervan dan Doji menambahkan yang penting dari kreasi musik elektronik adalah keberanian dalam berekspresi.

"Jangan takut untuk bikin yang sama sekali beda dari yang selama ini ada. Soalnya kalo gak pede ya gak akan jadi-jadi. Musik elektronik itu mudah, asal suka musik pasti bisa!," seloroh mereka.

Blender Musik Elektrik dan Etnik


Musik elektrik sering diidentikan dengan jedag-jedug beat disco di lantai dansa. Namun Mobilderek, grup band elektronik veteran asal Bandung, mencampurkan musik elektrik dan etnik bak buah yang diblender sehingga menimbulkan rasa yang padu.

"Awalnya kami juga gak mikir sampai sana, kita pokoknya niatnya bikin yang beda dari yang sudah ada," tutur Ervan sang DJ dan Sampler.

Namun saat ada tawaran untuk mengisi album Viking Persib Compilation 1 pada tahun 2003, kami sempat merasa ragu untuk membuat musik yang full elektronik.

"Persib dari Bandung yang nyunda banget, masa kita bikin musik yang full elektrik dan ga ada elemen Sunda-sundanya sama sekali, rasanya kok gak masuk," tutur Ervan yang diamini Doji sang MC.

"Akhirnya Mobilderek berkunjung ke Studio Ciwastra dan bertemu dengan Ki Bujang (musisi Sunda, red) yang menawarkan konsep mix and match musik itu, dan duarrr... jadinya luar biasa keren. Bisa didengar di lagu Persib Nu Aing," tutur Ervan.

Ervan cs yang tadinya banyak memakai DJ set, Drum Machine dan Sampler, malah jadi ketagihan memasukkan elemen musik tradisional. "Yah kita sempat juga beli Kecapi, dan alat-alat musik tradisional lain, utamanya sih alat musik bambu," ujar Ervan.

Namun begitu, Mobilderek tidak sekedar mencampur musik bak air dan minyak. Mereka memadupadankan satu sama lain sehingga kedengarannya tidak terlalu etnik tapi juga tidak terlalu elektronik.

"Kita tetap harus memperhatikan pendengar, biasanya yang mendengar kita anak muda makanya kita ramu sedemikian rupa biar yang denger tetap merasa asik," sambung Ervan lagi.

Lebih jauh Mobilderek memiliki misi tersendiri dengan dibawanya musik etnik ke dalam pakem musik mereka. Yaitu melestarikan musik tradisional.

"Tadinya kita hanya memamkai musik tradisional Sunda, tapi lama kelamaan kami merasa Indonesia kan tidak hanya Sunda, instrumen lain juga banyak yang keren. Sekaligus kita ingin elemen musik itu jadi ciri khas kita dari Indonesia yang gampang diinget. Seperti logo kita yang stripe hitam kuning dan ada di mana-mana," tutur Ervan.

Hitam Kuning Musik Mobilderek

Mobil derek tidak melulu fungsinya menarik kendaraan mogok, bisa juga menghasilkan dentuman musik indah dan bersemangat. Peran ini yang dilakoni band asal Bandung, Mobilderek selama 12 tahun di dunia musik.

Mobilderek menuturkan kepada detikbandung ketika ditemui di Studionya Jl.Cibaduyut Lama, Bandung, awalnya grup yang terbentuk tahun 1997 ini tidak sengaja menemukan nama Mobilderek.

"Waktu itu (tahun '97,red) banyak band yang berlomba-lomba bikin nama pake Bahasa Inggris. Tapi kita lama-lama bosen dengernya, jadinya kita cari nama yang simpel dan mudah diingat. Tiba-tiba aja terinspirasi oleh stripe hitam kuning khas mobil derek, selain itu kita juga pengen nama yang agak berbau techno," tutur Ervan a.k.a Theory (DJ&Programmer).

Pada saat awal berdiri, Ervan hanya berdua dengan kakaknya Cahyadi a.k.a Chad yang juga gemar musik elektronik. "Waktu itu kita seneng banget sama Prodigy, (band elektronik,red) dan kebetulan pas zaman itu di Bandung masih jarang band-band yang memainkan musik elektronik," ujar Ervan lagi.

Meski hanya tampil berdua, pada saat itu Mobilderek tidak kalah pamor dengan band-band lain yang memainkan full set instrument. Merekapun sudah mulai memikirkan tata lighting dan penampilan di panggung setiap kali mereka tampil.

"Walau instrumen kita waktu itu masih sangat simple, hanya drum machine, synth dan turntable jadul kita sudah memikirkan lighting. Yah, biar gak terlalu sepi aja. Selain itu bagi kami panggung adalah sesuatu yang harus sangat dipersiapkan," seloroh Ervan.

Untungnya sejak awal meniti karir bermusik orang tua Ervan dan Cahyadi sudah mendukung.

"Memang sudah dari dasarnya orang tua suka musik dan mendukung anak-anaknya bermusik. Dulu karena mereka ada kesempatan kerja di luarnegeri saya dan Chad dibelikan drum machine dan synthesizer. Padahal waktu itu saya juga belum tahu mau diapakan alat-alat itu," seloroh Ervan.

Merasa manggung berdua terlalu sepi Ervan dan Chad membawa dua additional player setiap kali manggung. "Waktu itu tahun 1999 dan Saparua masih jaya-jayanya. Agak gimana gimana gitu kalau kita manggung cuma berdua sedangkan yang lainnya band metal atau hardcore. Jadinya kita tambahkan Oding (Gitar) dan Yopi (Vokal)," tambah Ervan.

Berbekal respon komunitas yang bagus, Mobilderek mulai mengirimkan demo mereka ke radio-radio yang ada di Bandung.

"Single kita yang paling laris waktu itu adalah Fuck The Fakta," tutur Ervan. Direspon bagus di Radio, Mobilderek memberanikan diri merilis album pertama yang bertitel 'The World Needs a Party'.

"Waktu itu lagi gencar-gencarnya krismon, makanya kita namain album kita sebagai 'Dunia Yang Butuh Pesta'. Manusia sudah sangat tertekan dengan krisis, jadi yang dibutuhkan adalah relaksasi," tutur Ervan.

Album pertama yang diproduksi sendiri di bawah label X-Ninja itu laris hampir lima ribu kopi. Berbekal album pertamanya itu, Mobilderek semakin percaya diri. "Waktu itu sudah semakin lumayanlah, alat udah lumayan lengkap dan tawaran manggung sudah semakin banyak," ujar Ervan.

Di tahun 2002 Mobilderek merilis sebuah E.P My Name is Adrian yang berisi lima track. "E.P ini kami dedikasikan buat teman kami Adrian yang harus meregang nyawa karena 'overdose'. Makanya kelima judul lagunya ada elemen nama Adrian di dalamnya," seloroh Ervan.

Seiring dengan maraknya isu polusi yang semakin santer terdengar, Mobilderek akhirnya merilis album ke-2 mereka yang bertitel 'Menthol Polution' pada tahun 2003 dengan hits radio 'East West Lover'.

Bersamaan dengan itu sebuah artist manajemen musik elektronik asal Jakarta 'Elektra 666' berminat menggandeng Mobilderek.

"Sejak bergabung dengan manajemen Jakarta dan Bandung, kami semakin tertata baik dari musik, hingga konsep panggung dan efeknya tawaran manggungpun semakin deras," tutur Evan bangga.

Sempat merilis satu single 'Persib Nu Aing' yang didedikasikan untuk Persib di 2003, musikalitas Mobilderek mulai berubah. Dari yang tadinya murni elektrik kini mulai dipadukan dengan musik etnik.

"Awalnya bingung kita mau bikin lagu buat Persib tapi formatnya masak full elektronik," ujar Evan.

Tahun 2005, format personil mobilderek berubah lagi. Kini mereka tampil dengan format fullband sehingga personilnya menjadi Evan & Chad pada Programming, Sampler dan DJ, Doji (MC), Piet (Gitar) dan KiQ (Drum).

"Sengaja karena selama 8 tahun ngeband kita belum pernah pake format full band, tapi tetap dalam disiplin musik elektronik. Di tahun ini juga kita merilis album 'Ready To Go' dengan hits single yang sama," tutur Evan.

Karena satu dan lain hal, format mereka sempat banyak perubahan hingga tahun 2009 ini. Format personel teranyar mereka kini adalah Doji (MC), Theory (Sampler, Programming, DJ) dan KiQ (Drum).

"Kita ingin membuat sesuatu yang benar-benar fresh dan menggelegar. Makanya kita ganti format dan menahan diri ngeluarin album sampai 2009 ini. Hanya kita sudah melepas single Sail Away With Me dan In The Box," ujar Evan lagi.

Kini Band yang telah eksis selama 12 tahun di dunia musik elektronik tanah air ini telah memetik buah dari hasil kerja kerasnya. "Yah, semuanya pasti ada buahnya, sekarang sih bisa dibilang Mobilderek udah menghasilkan, tapi itu juga jadi tanggungjawab ke kita untuk bikin musik yang lebih bagus dan berkualitas," tutur Evan.

Laris Manis Dengan Sentuhan Etnik

Selama ini orang menilai hip hop adalah musik yang glamour, high class, dan beraroma kebarat-baratan. Namun ada yang beda dari sebuah grup hip hop asal Bandung, Sundanis.

Sundanis yang merupakan plesetan kata dari Sundanesse adalah sebuah grup hip hop bentukan Rudi Supriyadi a.k.a Ghetto Rude (27). Mengenai pemilihan nama, Rudi berpendapat memang ingin membentuk grup yang mengandung elemen kultur tradisional.

"Saya orang Sunda, namun sekarang saya jarang menemukan anak-anak muda zaman sekarang yang bicara dengan Bahasa Sunda apalagi paham kultur budaya Sunda. Jadilah saya bentuk grup dengan nama yang ejaannya juga Sunda banget," tuturnya.

Grup yang dimotori Rudi sejak April 2007 ini tadinya beranggotakan tiga personel, Insan (MC) dan DJ May. Namun karena terbentur urusan keluarga, DJ May mengundurkan diri yang disusul oleh keluarnya Insan yang ingin fokus ke kuliahnya di tahun 2008.

Ditinggal dua personelnya tidak membuat Sundanis patah arang. Rudi yang sudah dikenal dikancah hip hop lokal terus melangkah dengan percaya diri dengan mengusung hip hop sundanya.

"Ah, saya sih tidak begitu masalah dengan berjalan sendiri, selama masih bisa dihandle sendiri semua harus jalan, paling lebih capek aja, tapi 'dapet'nya juga lebih gede," ujarnya.

Perjuangan Rudi tidak sia-sia, pada saat kampanye Walikota Bandung 2008 lalu Sundanis mendapat order untuk membuat satu mini album untuk menyukseskan kampanye Dada Rosada. Berbekal empat lagu, yaitu 'Coblos Dadana', 'Bandung Bermartabat', 'Lemah Cai' dan 'Generasi Sunda', Sundanis menjadi begitu terkenal di dunia kampanye politik.

"Lumayan semua lagu dalam album itu menjadi hitsnya Pak Dada Rosada dan massa pendukungnya," ujar Rudi.

Selain itu Rudi menuturkan jika Dada selalu senang dengan penampilan Sundanis. "Setiap Sundanis main biasanya Pak Dada telepon saya bilang jangan dulu main sebelum beliau datang," seloroh Rudi seraya tertawa.

Setelah sukses dengan mini album pemilu Walikota, Sundanis telah melaunching album teranyarnya Sundanesse Hip Hop di tahun 2009. Hits andalan mereka seperti 'Kamane Ateuh Gaya' dan 'Awewe Geulis' sudah mondar-mandir diplaylist radio lokal. Selain itu album Sundanis juga dirilis dengan format VCD bukan CD, satu poin yang menambah keunikan mereka.

"Saya sih berharap dengan format seperti ini bisa mendongkrak penjualan, selain itu juga bisa memperkenalkan kultur Sunda, syukur-syukur bisa sampai keluar negeri," pungkas Rudi.

Rock Gratis Yang Bikin Laris


Ketika semua band berlomba-lomba meraih penjualan album dengan predikat platinum, multiplatinum dan segala tetek bengeknya, band rock gaek asal Bandung, Koil, malah menggratiskan albumnya.

Awalnya band yang digawangi oleh Otong (Vokal), Donny (Gitar), Bobby (Bas) dan Leon (Drum) ini tadinya 'hanya' sekumpulan pemuda pecinta rock dan metal era '80-an. Akhir tahun 1993, keakraban mereka berempat berujung pada sepakat mendirikan band rock dengan nama 'Koil'.

Bobby dan Leon yang ditemui di distro God.INC, Jl.Sultan Agung No.9 Bandung, menuturkan bahwa nama Koil adalah sebuah pasangan ibarat "yin" dan "yang" dalam kehidupan yang satu dan sama lainnya saling melengkapi.

"Nama Koil ibarat yin dan yang dari kehidupan, selain itu namanya juga memakai Bahasa Indonesia yang terdengar unik," tutur Bobby.

Setelah sempat bergabung dengan Project-Q (Label yang sama dengan Slank) Koil mulai merasa perlu untuk lebih memantapkan langkah di dunia musik. "Bergabung dengan Project-Q di tahun 1994, kami merasa perlu menjalani Koil secara lebih serius," tukas Bobby.

Namun saat Koil mulai memantapkan karir di dunia musik, krisis hebat menerjang Indonesia di tahun 1997. Alhasil Project-Q juga turut terkena imbasnya. "Kita harus keluar dari Project-Q karena labelnya bangkrut," tutur Leon.

Keadaan demikian tidak lantas membuat Koil kehilangan asa. Berbekal semangat dan kebersamaan, mereka merilis mini album 'Kesepian' tahun 1998.

"Akhirnya, setelah sempat ngobrol sana sini, kita sepakat untuk merilis sendiri dan kita buat label dengan nama Apocalypse record," ujar Leon lagi.

Rupanya mengusung label sendiri membawa angin segar. Koil merasakan fan base mereka semakin kuat dan tawaran manggung juga meningkat. "Memang lebih capek, tapi esensi dari main musiknya lebih dapet," tutur Leon.

Hingar bingar musik rock Koil semakin santer terdengar hingga dirilisnya album 'Megaloblast' tahun 2001 dan 'Blacklight Shines On' tahun 2007.

"Kebetulan di album Megaloblast lagu 'Dosa' dan 'Mendekati Surga' sering diputar di televisi dan radio, jadi semakin banyak orang yang tahu," tutur Bobby.

Namun sekali pun fan base sudah menguat dan nama mereka semakin membesar, ada sejumlah aktivitas yang membuat album teranyar mereka 'Blacklight Shines On' tertunda penggarapannya.

"Yah maklum kita belum bisa 100 persen hidup dari Koil, akhirnya kita bikin distro dan kafe bareng-bareng alhasil album jadi keteteran," tutur Bobby.

Namun jeda enam tahun tidak membuat fans Koil pergi, mereka dengan setia tetap menunggu album baru Koil. "Setiap Koil manggung penonton yang setia nonton selalu ada, dan setiap nanya kapan albumnya, kita bilang 'sebentar lagi bos', padahal bohong tu," seloroh Bobby seraya tertawa.

Karena itulah Koil sepakat untuk melepas album teranyar mereka secara cuma-cuma. "Album Blacklight Shines On ini kami dedikasikan buat fans setia Koil yang sudah menanti lama, jadi kita berikan cuma-cuma seperti layaknya sticker saat manggung," tutur Leon dan Bobby kompak.

Aksi 'gila' Koil yang membagi album secara gratis tidak sia-sia. Berbagai tawaran menarik mulai dari digunakannya lagu mereka pada film Kuntilanak 2 dan diajak Dhani Ahmad untuk berkolaborasi di Republik Cinta jelas tawaran yang menarik. Koil pun tidak menyia-nyiakan itu.

Peran pihak lain seperti sponsor pun diakui sangat banyak membantu. "Sebenarnya selain itu kita mendapat dukungan dari Jack Daniels yang memberikan bantuan untuk merilis album teranyar kami sebanyak 30 ribu kopi CD sekaligus tour keliling Surabaya, Jakarta dan Bandung," tutur Leon.

Koil sudah menunjukkan bahwa musik tidak melulu diukur secara materi. Eksistensi Koil selama 15 tahun di dunia musik rock tanah air yang diiringi loyalitas pendengarnya sudah membuktikan itu.

Ketika Hardcore Bicara Cinta


Ketika band-band cadas sibuk menggeber lagu-lagu tensi tinggi dengan lirik pedas nan gahar, Dinning Out malah mengusung tema yang selama ini seolah tabu untuk dimainkan oleh pengusung musik cadas, Cinta!

Dinning Out yang baru melaunching album teranyarnya 'Menghempas Lelah' bercerita kepada detikbandung mengenai konsep album teranyar mereka.

"Single jagoannya 'Cinta' sama 'Terasing', kalau judul Menghempas Lelah sendiri diambil dari judul lagu 'Lelah'. Eben Burgerkill sih yang kasih masukan biar titel albumnya itu," ujar Andri.

Para personil Dinning Out juga mengaku tidak anti kepada musik-musik melayu komersial. Mereka bahkan mengaku ingin tampil bersama band-band seperti itu

"Oh gak tuh, biasa-biasa saja. Dibilang suka engga tapi dibilang sebel juga engga. Mereka juga main musik, kita hargai saja. Malah kalau bisa sepanggung bareng mereka unik juga," tutur Adan.

Disinggung mengenai tema cinta, Dinning Out menepis bahwa band cadas tidak pas jika membawakan lagu bertema cinta.

"Loh,jangan salah..emang musik cadas harus menyeramkan dan gelap? Yang seram-seram sih udah ga musim,yang happy-happy aja deh. Toh semua orang butuh cinta, dan lewat album ini kita mainkan lagu cinta ala Dinning Out," ujar DO kompak.

Apa yang dikatakan Dinning Out bukan sekedar cuap-cuap belaka. Manusia manapun pasti butuh cinta, hanya bagaimana mengemasnya agar cinta tidak terkesan cengeng dan Dinning Out sudah membuktikan itu.

Dinning Out, Makan Malam ala Hardcore!


Banyak orang menyangka bahwa hardcore adalah musik yang menyeramkan,membuat telinga sakit dan sulit dimengerti. Namun hal yang berbeda muncul dari grup hardcore veteran asal Bandung Dinning Out (DO). Dinning Out menyajikan hardcore yang easy listening namun tetap penuh energi. Dinning Out awalnya adalah band hardcore asal Ujung Berung yang berpersonilkan Adan (Gitar), Atik (Bass) dan Rudi (Vokal).

"Kita mulai jalan tahun 1997, dengan tiga personil. Tanpa penabuh drum, jadi setiap manggung kita bawa additional drummer," tutur Adan yang ditemui disela-sela latihan Dinning Out.

Untuk nama, Adan menuturkan bahwa Dinning Out adalah representasi nama dari vokalis lama mereka Rudi yang sering mengajak anak-anak Dinning Out untuk santap malam bersama diluar rumah. "Ya itulah, kita begitu sering kongkow bareng saat makan malam, dari kata dinner jadilah Dinning Out. Simplenya sih makan malam diluar," seloroh Adan.

Diawal-awal perjalanannya DO masih begitu kental dengan tempo hardcore cepat macam Sick Of It All dan Madball. Namun perjalanan waktu menghantarkan Dinning Out kearah pergantian personil yang berarti berubah format musik.

"Aci(female vox) masuk ditahun 1998, masuknya Aci menjadi fenomena lantaran Aci berjilbab dan membawakan musik hardcore bersama Dinning Out," sambung Adan.

Formasi ini sempat bertahan sampai tahun 2007, ditahun ini bisa dibilang formasi DO berubah total dan mejadi Adan (gitar), Akew (gitar), Atik (bas), Andri (vox) dan Gebeg (drum). "Formasi yang terakhir ini moga-moga bisa jadi yang paling solid," tutur Andri.

Dengan formasi terakhirnya DO mantap menggebrak scene musik cadas Bandung dengan mengusung aliran progressive hardcore. "Musik DO sekarang memang sengaja dibuat lebih easy listening, liriknya simple dan bisa membawa masa buat sing along setiap kita manggung," tutur Adan.

DO dengan formasi baru telah merilis satu buah album ditahun 2009. Album ke-dua DO ini bertitel 'Menghempas Lelah'. "Single jagoannya 'Cinta' sama 'Terasing', kalau judul Menghempas Lelah sendiri diambil dari judul lagu 'Lelah'. Eben Burgerkill sih yang kasih masukan biar titel albumnya itu," ujar Andri.

Disinggung mengenai tema cinta, Dinning Out menepis bahwa band cadas tidak pas jika membawakan lagu bertema cinta. "Loh, jangan salah, emang musik cadas harus menyeramkan dan gelap? Yang seram-seram sih udah ga musim,yang happy-happy aja deh. Toh semua orang butuh cinta, dan lewat album ini kita mainkan lagu cinta ala Dinning Out," ujar DO kompak.